Harga Emas Antam Melonjak Rp 40.000, Sentuh Rp 3,085 Juta per Gram pada 28 Februari 2026

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menunjukkan performa impresif pada Sabtu, 28 Februari 2026. ini melonjak tajam sebesar Rp 40.000 per gram, menembus level Rp 3.085.000 per gram. Kenaikan signifikan ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama tiga hari perdagangan terakhir.

Tidak hanya harga jual, harga beli kembali atau buyback juga ikut terkerek naik. Pada hari yang sama, harga buyback tercatat sebesar Rp 2.864.000 per gram, juga mengalami kenaikan Rp 40.000 dari perdagangan sebelumnya. Bagi investor yang ingin menjual kembali emasnya, perlu diperhatikan bahwa transaksi buyback dengan nominal di atas Rp 10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5% bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3% bagi non-NPWP.

Lonjakan harga ini semakin mengukuhkan posisi emas sebagai aset yang diminati di tengah dinamika pasar. Sepanjang tahun 2026, harga emas Antam telah mencatatkan kenaikan sekitar 23% dari posisi Rp 2.488.000 per gram pada 1 Januari lalu. Meskipun demikian, harga hari ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang sempat menyentuh Rp 3.168.000 per gram pada 29 Januari 2026.

Berbagai faktor global menjadi pendorong utama di balik reli harga emas ini. Ketidakpastian ekonomi global, gejolak di pasar saham, dan fluktuasi nilai tukar mata uang membuat banyak investor beralih ke emas sebagai aset safe haven yang aman. Selain itu, kebijakan suku bunga dari bank sentral negara-negara maju, khususnya potensi pelonggaran kebijakan moneter atau penurunan suku bunga oleh Federal Reserve System (The Fed), turut memberikan sentimen positif bagi emas.

Aspek geopolitik juga memainkan peran dominan dalam pergerakan harga emas. Ketegangan hubungan internasional, seperti antara Amerika Serikat dan Iran, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan AS, memperkuat daya tarik emas sebagai lindung nilai. Edi Permadi, Tenaga Profesional Lemhanas, pada Kamis (29/01/2026) menyatakan, “Pergerakan harga emas selalu terkait dengan beberapa faktor yakni geopolitik, ketidakpastian ekonomi global, faktor supply and demand dan kebijakan suku bunga. Beberapa hal ini juga akan mempengaruhi pergerakan harga emas di sepanjang 2026.” Pembelian emas dalam jumlah besar oleh bank sentral, termasuk China, juga menjadi salah satu pendorong utama reli emas yang berkelanjutan.

Di pasar global, harga emas juga menunjukkan penguatan. Pada Jumat (27/2/2026), harga emas global ditutup di level US$5.277,29 per ons, menguat 1,74%. Beberapa analis memperkirakan harga emas akan tetap berada di kisaran Rp2,9 juta hingga Rp3 juta per gram dalam beberapa minggu ke depan, tergantung pada perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter.

Dalam konteks domestik, peran Pegadaian sebagai institusi yang memfasilitasi semakin menonjol. Pegadaian telah bertransformasi menjadi “Bank Emas” pertama di Indonesia sejak 26 Februari 2025, mengoptimalkan potensi emas nasional untuk kesejahteraan masyarakat. Layanan Bank Emas Pegadaian mencakup Deposito Emas, Pinjaman Modal Kerja Emas, Jasa Titipan Emas Korporasi, hingga Perdagangan Emas.

Antusiasme masyarakat terhadap produk dan layanan emas di Pegadaian sangat tinggi. Direktur Pemasaran, Penjualan, dan Pengembangan Produk PT Pegadaian, Selfie Dewiyanti, mengungkapkan, “Hingga Februari 2026, transaksi dan kelolaan Bank Emas Pegadaian mencapai lebih dari 40,51 ton, terdiri dari produk Tabungan… Sementara itu Outstanding Cicil Emas juga menunjukkan angka yang luar biasa yaitu mencapai 7,37 ton.” Pencapaian ini membuktikan bahwa emas bisa menjadi instrumen investasi yang cair, produktif, dan aman, didukung oleh regulasi dan inovasi digital Pegadaian.