Harga Emas Antam Melonjak Rp50 Ribu per Gram, Tembus Rp3,13 Juta di Awal Maret 2026

emas antam, harga emas, investasi emas, geopolitik, bank sentral

batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali menunjukkan tren penguatan signifikan pada awal Maret 2026. Pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, harga melonjak sebesar Rp50.000 per gram, menempatkan harga jual di level Rp3.135.000 per gram. Kenaikan ini melanjutkan momentum positif yang terjadi dalam sepekan terakhir, di mana komoditas logam mulia ini telah mencatat peningkatan sebesar Rp73.000 per gram.

Dinamika Harga dan Rekor Tertinggi

Tidak hanya harga jual, harga beli kembali atau buyback emas Antam juga mengalami kenaikan serupa, yakni Rp50.000 per gram, menjadi Rp2.914.000. Sementara itu, di Pegadaian, harga emas Antam untuk ukuran 1 gram tercatat lebih tinggi, yakni Rp3.332.000 per gram pada tanggal yang sama. Meskipun mengalami penguatan, harga hari ini masih berada di bawah rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) yang tercatat pada 29 Januari 2026, yaitu Rp3.168.000 per gram.

Pergerakan harga emas Antam ini mencerminkan dinamika pasar global dan permintaan domestik yang tetap stabil. Dalam sepekan terakhir, harga emas dunia juga menunjukkan kenaikan yang signifikan.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas

Berbagai analis sepakat bahwa kenaikan harga emas dipicu oleh sejumlah faktor fundamental. Salah satu pemicu utama adalah ketidakpastian yang meningkat, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan Israel. Emas, yang dikenal sebagai aset safe haven, menjadi pilihan utama investor di tengah kondisi ekonomi dan politik global yang bergejolak.

Selain itu, permintaan yang kuat dari berbagai negara, seperti Tiongkok yang telah mengakumulasi sekitar 351 ton emas dalam lima tahun terakhir, turut menjadi katalisator. Potensi pelemahan dolar Amerika Serikat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral utama, termasuk Federal Reserve AS, juga memberikan dukungan bagi harga emas. Produksi tambang yang cenderung lambat juga berkontribusi pada terbatasnya pasokan di pasar global.

Proyeksi Harga Emas ke Depan

Para pengamat pasar memproyeksikan tren bullish emas akan berlanjut sepanjang tahun 2026. Analis pasar emas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan bahwa harga emas Antam berpeluang menembus level Rp3.150.000 per gram pada awal pekan ini, bahkan berpotensi mencapai resistensi kedua di Rp3.400.000 per gram.

Secara global, beberapa lembaga keuangan besar juga menaikkan target harga emas. UBS, misalnya, menargetkan harga emas sekitar US$6.200 per troy ounce untuk bulan Maret, sementara JP Morgan memproyeksikan harga bisa mencapai US$6.300 per ounce pada akhir tahun 2026. World Gold Council (WGC) dalam laporannya, Gold Outlook 2026, memprediksi kenaikan harga emas antara 5 hingga 15 persen dalam skenario perlambatan ekonomi ringan, dan bisa melonjak 15 hingga 30 persen jika terjadi perlambatan ekonomi yang lebih dalam disertai lonjakan risiko geopolitik.

Namun, WGC juga mengingatkan adanya potensi koreksi harga emas antara 5 hingga 20 persen apabila ekonomi AS menguat lebih cepat dan inflasi kembali naik, serta permintaan ritel melemah. Dalam skenario pesimistis, harga emas diperkirakan akan bertahan di Rp2,97 juta per gram pada akhir Desember 2026.

Pajak Transaksi Emas Antam

Bagi investor yang melakukan transaksi jual beli emas Antam, perlu diperhatikan adanya ketentuan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta akan dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3% bagi non-NPWP. PPh 22 atas transaksi buyback ini akan dipotong langsung dari total nilai buyback. Sementara itu, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45% bagi pemilik NPWP dan 0,9% bagi non-NPWP, dengan setiap transaksi pembelian disertai bukti potong PPh 22.