Harga Emas dan Perak Melonjak Drastis, Negosiasi Nuklir AS-Iran Masih Buntu

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Harga logam mulia, baik maupun , terpantau melonjak drastis pada akhir Februari 2026. Kenaikan ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang memanas, terutama setelah putaran negosiasi kesepakatan nuklir antara dan di Jenewa berakhir tanpa hasil yang konkret.

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, harga perak murni PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak sebesar Rp 2.950, mencapai level Rp 58.050 per gram. Sementara itu, di pasar internasional, harga perak (XAGUSD) naik menjadi 93,82 dolar AS per troy ons pada 27 Februari 2026, meningkat 6,28% dari hari sebelumnya. Perak bahkan sempat mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 121,636 dolar AS pada 29 Januari 2026.

Tren serupa juga terlihat pada emas. Harga emas dunia (XAUUSD) menguat hampir 1% menjadi di atas 5.220 dolar AS per ons pada Jumat, 27 Februari 2026, dan ditutup pada 5.278,05 dolar AS per troy ons, naik 1,81% dari hari sebelumnya. Di pasar domestik, harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram naik Rp 27.000 menjadi Rp 3.092.000, dan emas UBS ukuran 1 gram meningkat Rp 43.000 menjadi Rp 3.123.000 pada 28 Februari 2026. Harga emas Antam Logam Mulia 1 gram di Yogyakarta juga meroket Rp 40.000 menjadi Rp 3.085.000. Emas sendiri telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 5.608,35 dolar AS pada Januari 2026.

Kebuntuan Perundingan Nuklir AS-Iran

Penyebab utama reli harga logam mulia ini adalah kebuntuan dalam perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Putaran ketiga negosiasi yang berlangsung di Jenewa, Swiss, pada Kamis, 26 Februari 2026, tidak menghasilkan kesepakatan signifikan. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang bertindak sebagai mediator, mengakui adanya “kemajuan signifikan dalam negosiasi” namun tidak merinci hasil konkretnya.

Presiden AS Donald Trump menyatakan “tidak senang” dengan hasil perundingan tersebut, meskipun ia mengindikasikan akan memberikan lebih banyak waktu bagi para negosiator untuk mencapai kesepakatan. Di sisi lain, Iran tetap teguh pada pendiriannya untuk melanjutkan pengayaan uranium, menolak proposal pemindahan uranium ke luar negeri, dan menuntut pencabutan sanksi internasional. Washington dilaporkan mengajukan syarat-syarat yang sulit, termasuk pembongkaran tiga fasilitas nuklir utama Iran dan pemindahan seluruh cadangan uranium yang diperkaya ke AS, dengan tujuan memblokir permanen akses Iran terhadap pengembangan senjata nuklir. Perundingan lanjutan dijadwalkan akan digelar pekan depan di Wina, Austria.

Ketegangan Geopolitik dan Status Aset Aman

Ketidakpastian yang muncul dari kebuntuan diplomatik ini memperkuat status emas dan perak sebagai aset safe-haven. Investor cenderung beralih ke logam mulia di tengah meningkatnya risiko geopolitik global. Amerika Serikat sendiri telah mengerahkan kekuatan militer terbesarnya di Timur Tengah sejak invasi Irak tahun 2003, meningkatkan kekhawatiran akan potensi konflik terbuka yang lebih luas. Bahkan, pemerintah dari 15 negara telah menghimbau warganya untuk segera meninggalkan Iran pada 27 Februari 2026 karena alasan keselamatan dan keamanan.

Ketegangan antara AS dan Iran juga berdampak pada pasar minyak global, memicu kenaikan harga karena kekhawatiran akan gangguan pasokan, terutama melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur vital ekspor minyak mentah dunia. Para analis pasar melihat emas bukan lagi sekadar komoditas, melainkan “ultimate safe haven” yang diperebutkan oleh bank sentral dunia di tengah “chaos global” dan “era de-dollarization” yang nyata.

Faktor Ekonomi Lain yang Berkontribusi

Selain faktor geopolitik, pelemahan indeks Dolar AS (DXY) akibat beban utang pemerintah federal yang menembus batas kewajaran juga turut menjadi pemicu kenaikan harga emas. Meskipun demikian, data inflasi harga produsen (PPI) di AS yang lebih tinggi dari perkiraan pada Januari menunjukkan tekanan biaya input yang berisiko tetap tinggi. Hal ini dapat membuat Federal Reserve lebih berhati-hati dalam rencana pemangkasan suku bunga, yang berpotensi mengurangi daya tarik emas dalam jangka menengah. Kebijakan perdagangan AS yang agresif, seperti penerapan tarif global 10% dengan potensi kenaikan menjadi 15%, juga mendukung permintaan emas sebagai aset aman.