Harga Emas dan Saham Emiten Melonjak Tajam di Tengah Eskalasi Konflik AS-Israel-Iran

konflik as-iran, harga emas, saham emiten emas, investasi safe haven, geopolitik

global dan saham emiten pertambangan emas di Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan pada Senin, 2 Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang mendorong investor mencari aset aman di tengah ketidakpastian .

Di pasar spot global, harga emas melonjak 1,35 persen, mencapai US$5.348,49 per ons pada pukul 06.16 WIB. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat turut menguat tajam 2,2 persen, menyentuh angka US$5.362,30 per ons. Lonjakan ini terjadi setelah harga emas sempat menembus US$5.300 pada 1 Maret 2026. Sepanjang tahun 2025, harga emas telah melonjak sekitar 64 persen, didorong oleh pembelian besar-besaran oleh bank sentral, arus masuk dana yang kuat ke exchange-traded funds (ETF), serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat.

Ketegangan Geopolitik Pemicu Utama

Eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi katalis utama penguatan harga emas. Serangan Israel ke Teheran pada Minggu (1/3/2026) yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan rudal, memperburuk situasi. Laporan mengenai tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, semakin memicu ketidakpastian terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama penguatan harga emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).

Analis independen, Ross Norman, menyoroti peran emas sebagai indikator utama dalam mengukur ketidakpastian global yang meningkat. Ia menyatakan, "Emas mungkin merupakan barometer terbaik untuk mencerminkan ketidakpastian global, dan tekanannya terus meningkat. Kita bisa memperkirakan harga emas akan kembali mencetak rekor baru seiring memasuki era baru ketidakpastian geopolitik." Kyle Rodda, analis pasar keuangan senior Capital.com, menambahkan bahwa dinamika kali ini berbeda, "Tidak seperti eskalasi sebelumnya dalam konflik ini, ada insentif yang cukup kuat di sini bagi kedua belah pihak untuk terus meningkat secara potensial. Itu berisiko menciptakan lingkungan yang kacau dan tidak stabil lebih dari sekadar beberapa hari. Dalam konteks itu, dinamika emas cukup positif."

Prospek Harga Emas dan Saham Emiten

Beberapa analis memproyeksikan harga emas akan terus menguat. Analis di Marex, Edward Meir, memperkirakan pasar komoditas akan bereaksi cepat terhadap konflik tersebut, dengan harga emas berpotensi langsung naik sekitar US$200 per ons pada awal perdagangan. Lukman Leong, pengamat komoditas dan mata uang dari Doo Financial Futures, memperkirakan reli harga emas dapat berlanjut hingga menyentuh area US$6.000 per troy ons jika konflik berkepanjangan. UBS bahkan menaikkan target harga emas menjadi sekitar US$6.200 per troy ounce untuk bulan Maret, sementara JP Morgan memproyeksikan harga emas bisa mencapai hingga US$6.300/oz pada akhir tahun 2026.

Di pasar domestik, saham- turut melesat. Pada perdagangan Senin (2/3/2026) pagi, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 4,37 persen ke level Rp4.540 per saham. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) melonjak 7,22 persen ke level Rp1.035 per saham. Kenaikan juga dialami oleh PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) sebesar 3,72 persen ke level Rp1.950 per saham, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 2,40 persen ke Rp3.840 per saham, dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menguat 4,20 persen ke Rp8.675 per saham. Emiten EMAS sendiri baru saja melakukan penuangan emas perdana di Tambang Emas Pani, Gorontalo, pada 14 Februari 2026.

Harga emas batangan Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga mengalami kenaikan. Pada Sabtu (28/2/2026), harga emas Antam ukuran 1 gram menjadi Rp3.085.000, meningkat Rp40.000 dibandingkan posisi sebelumnya Rp3.045.000 per gram. Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga logam mulia di pasar domestik berpotensi menembus Rp3.150.000 per gram, bahkan bisa mencapai Rp3.400.000 per gram jika eskalasi konflik berlanjut.