Harga emas batangan di PT Pegadaian (Persero) kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026. Kenaikan ini terjadi pada produk emas cetakan UBS dan Galeri 24, meskipun dengan pergerakan yang relatif tipis. Namun, daftar harga emas Antam dilaporkan masih belum tercantum di situs resmi Sahabat Pegadaian.
Berdasarkan pantauan dari laman Sahabat Pegadaian, emas produksi PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) untuk ukuran 0,5 gram dihargai Rp 1.666.000, naik Rp 1.000 dari hari sebelumnya. Sementara itu, emas UBS ukuran 1 gram dibanderol Rp 3.083.000, juga menguat Rp 1.000.
Tren serupa juga terlihat pada emas cetakan Galeri 24. Untuk ukuran 0,5 gram, harganya mencapai Rp 1.608.000, meningkat Rp 4.000 dalam sehari. Adapun emas Galeri 24 ukuran 1 gram kini berada di posisi Rp 3.065.000, terangkat Rp 8.000 dari harga kemarin.
Di sisi lain, situs Sahabat Pegadaian pada Jumat ini belum menampilkan daftar harga emas Antam, baik dari ukuran terkecil 0,5 gram hingga terbesar 1.000 gram. Kondisi serupa pernah terjadi sebelumnya, di mana emas Antam tidak tersedia di Pegadaian selama lebih dari dua bulan, yakni dari 26 Mei hingga 1 Agustus 2025.
Meski demikian, harga emas Antam di Butik Logam Mulia (LM) justru menunjukkan penguatan. Pada 27 Februari 2026, harga emas Antam naik Rp 16.000, mencapai level Rp 3.039.000 per gram. Harga buyback emas Antam juga berada di posisi Rp 2.818.000 per gram.
Prospek Emas Global di Tengah Dinamika Ekonomi
Kenaikan harga emas di pasar domestik sejalan dengan tren penguatan harga emas global yang masih dalam jalur positif. Pada 20 Februari 2026, harga emas dunia (XAU/US$) tercatat di angka US$ 4.990,69 per ons. Riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia yang dipublikasikan pada 20 Februari 2026 mempertahankan rekomendasi BUY/Overweight untuk emas, dengan target akhir tahun 2026 mencapai US$ 6.000 per ons, mengindikasikan potensi kenaikan sekitar 20% dari posisi saat ini.
Beberapa faktor utama yang mendorong penguatan harga emas meliputi peningkatan tensi geopolitik, dinamika perdagangan global, serta potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Pembelian emas oleh bank sentral dan tingginya permintaan investasi juga menjadi katalis penting.
Lembaga keuangan global lainnya turut memproyeksikan kenaikan harga emas yang signifikan. Deutsche Bank merevisi target harga emas untuk tahun 2026 menjadi USD 4.450 per troy ons. Sementara itu, Morgan Stanley memperkirakan harga mencapai USD 4.500 pada pertengahan 2026, dan JP Morgan memproyeksikan di atas USD 4.600 pada kuartal kedua, bahkan menembus USD 5.000 pada kuartal keempat. Metals Focus juga memperkirakan harga emas akan berada di level USD 5.000 per troy ons pada akhir tahun.
Namun, prospek emas juga diwarnai risiko. World Gold Council (WGC) memperkirakan harga emas berpotensi turun sekitar 5% hingga 20% dalam skenario pertumbuhan ekonomi positif, di mana investor cenderung beralih ke aset berimbal hasil lebih tinggi. Bank Dunia bahkan memprediksi potensi penurunan signifikan pada tahun 2027, dengan target harga bisa merosot ke level US$ 3.375 per troy ounce, didasarkan pada asumsi pemulihan ekonomi global yang solid dan kenaikan kembali suku bunga.
Secara historis, harga emas memiliki korelasi negatif yang kuat dengan dolar Amerika Serikat. Pelemahan dolar AS cenderung mendorong kenaikan harga emas, sementara penguatan dolar dapat menekan harga logam mulia ini.