Harga Emas Diprediksi Berfluktuasi di Awal April 2026, Minyak Mentah Terus Memanas

dunia diperkirakan akan menunjukkan pergerakan yang fluktuatif memasuki awal April 2026. Volatilitas ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk kenaikan mentah yang signifikan dan ketegangan yang terus memanas di berbagai belahan dunia. Para analis pasar menyoroti interaksi kompleks antara komoditas ini dengan kebijakan moneter global.

Pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, harga emas spot menguat 2,6% mencapai level US$4.492,74 per ons troi, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga melonjak 2,55% menjadi US$4.521,3 per ons troi. Kenaikan ini terjadi setelah sempat terkoreksi di awal pekan, bahkan menyentuh level terendah sejak awal Januari 2026 pada 26 Maret, di mana harga emas ditutup pada US$4.379,01 per troy ons.

Minyak Mentah Melonjak, Geopolitik Jadi Pemicu Utama

Di sisi lain, harga minyak mentah menunjukkan tren penguatan yang lebih konsisten. Pada 27 Maret 2026, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi US$101,18 per barel, melonjak 7,09% dari hari sebelumnya. Dalam sebulan terakhir, harga minyak mentah telah meningkat tajam sebesar 42,05%. Kenaikan ini sebagian besar dipicu oleh ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, termasuk konflik AS-Iran dan isu di Selat Hormuz yang mengancam pasokan global.

Direktur Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Nursalam, pada 12 Maret 2026, mengungkapkan bahwa perkembangan geopolitik global, khususnya di Timur Tengah, akan sangat memengaruhi harga komoditas minyak mentah dan emas. Analis dari Research and Development ICDX, Girta Putra Yoga, juga memproyeksikan harga minyak dunia pada tahun 2026 akan berada di kisaran US$95-US$100 per barel, dengan level support di US$80-US$75 per barel.

Prediksi Harga Emas Awal April 2026

Untuk periode 30 Maret hingga 5 April 2026, Traders Union memperkirakan emas (XAU/USD) akan diperdagangkan antara sekitar US$4.607 dan US$4.670, dengan harga rata-rata mendekati US$4.638,68. Analis komoditas dan pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono, memproyeksikan harga emas akan bergerak di antara US$3.800-US$4.800 per ons troi dalam sepekan ke depan. Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat harga emas berkisar antara US$4.300-US$4.600 per ons troi.

Korelasi antara harga emas dan minyak mentah seringkali kompleks. Meskipun keduanya sering bergerak searah, terutama sebagai lindung nilai inflasi, faktor lain seperti penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi dinamika ini. Joseph Cavatoni, Senior Market Strategist untuk Amerika Utara di World Gold Council, menjelaskan, “Risiko geopolitik masih ada, tetapi berinteraksi dengan inflasi, harga energi, dan kebijakan moneter dengan cara yang lebih kompleks, artinya pergerakan suku bunga dan mata uang memiliki dampak yang lebih langsung pada pergerakan harga.”

Faktor Pendorong dan Penekan Harga Emas

Beberapa faktor utama yang terus menopang harga emas adalah pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve () di tengah inflasi tinggi, kelemahan dolar AS, pembelian emas oleh bank sentral global, serta ketegangan geopolitik. Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, menegaskan bahwa “Emas bukan sekadar komoditas biasa, tetapi penyimpan nilai yang dipercaya lintas generasi, lintas zaman, dan lintas siklus ekonomi.”

Namun, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama guna mengatasi guncangan inflasi dari kenaikan harga minyak dapat menekan daya tarik emas. Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, menyatakan, “Jika konflik berlanjut, harga bisa turun di bawah US$4.000, sementara gencatan senjata dan harapan pemangkasan suku bunga dapat mendorong harga kembali menuju US$5.000.”

Secara jangka panjang, beberapa lembaga riset seperti Metals Focus dan Goldman Sachs memproyeksikan harga emas dapat menembus US$5.000 per ons pada tahun 2026. Commerzbank juga menaikkan perkiraan harga emas untuk akhir tahun 2026 menjadi US$5.000 per ons, dengan asumsi konflik di Timur Tengah mereda dan The Fed melanjutkan siklus pelonggaran moneternya.