Harga Emas Diproyeksi Tembus US$6.000 pada 2026, Prospek Saham ANTM Cerah

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

Trending Image 1771631794

dunia diproyeksikan akan melonjak signifikan hingga menembus level US$6.000 per troy ons pada tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh berbagai faktor global, mulai dari ketegangan yang memanas hingga agresivitas dalam mengakumulasi logam mulia. Di tengah tren kenaikan ini, prospek saham PT Aneka Tambang Tbk () juga dinilai menjanjikan.

Target Ambisius US$6.000 per Troy Ons

Sejumlah lembaga keuangan global dan analis pasar telah merevisi naik proyeksi harga emas untuk tahun 2026. NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI Research) mempertahankan rekomendasi Overweight Gold dengan target harga akhir tahun di US$6.000 per troy ons. Angka serupa juga diproyeksikan oleh Deutsche Bank, JP Morgan, Midas Funds, dan BNP Paribas. Bahkan, Wells Fargo Investment Institute secara agresif menaikkan proyeksinya ke kisaran US$6.100 hingga US$6.300 pada akhir 2026. Sementara itu, Goldman Sachs memproyeksikan harga emas mencapai US$5.400 per troy ons pada akhir 2026.

Pada 20 Februari 2026, harga emas spot global berada di kisaran US$4.990,69 per ons. Sehari setelahnya, pada 21 Februari 2026, harga emas tercatat US$5.106,72. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, bahkan memproyeksikan harga emas dunia bisa meroket hingga US$6.500 per troy ons tahun ini. Helen Amos dari BMO Equity Research juga memperkirakan nilai logam mulia berpeluang mencapai kisaran US$6.500 per troy ons pada akhir 2026, dan bahkan menyentuh US$8.600 per troy ons pada akhir tahun 2027.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas

Kenaikan harga emas didukung oleh beberapa pilar utama:

  • Ketegangan Geopolitik Global: Konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, dan dinamika perdagangan internasional meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
  • Pembelian Agresif oleh Bank Sentral: Bank-bank sentral global, termasuk The Fed, Rusia, Tiongkok, dan negara-negara BRICS, secara signifikan meningkatkan cadangan emas mereka sebagai strategi diversifikasi dari dolar AS.
  • Potensi Pemangkasan Suku Bunga The Fed: Ekspektasi penurunan suku bunga acuan oleh Federal Reserve Amerika Serikat dapat melemahkan dolar AS, membuat emas lebih menarik karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
  • Produksi Emas Global Melambat dan “Zero Discovery”: Pertumbuhan produksi emas dunia sangat tipis, hanya sekitar 1% secara tahunan. Lebih lanjut, laporan dari Tavi Costa (Azuria Capital) pada 12 Februari 2026, berdasarkan data S&P Global, menunjukkan tidak adanya penemuan deposit emas besar (minimal 2 juta ons) pada tahun 2023 dan 2024, sebuah anomali historis yang belum pernah terjadi sejak 1990-an. Kelangkaan pasokan ini menjadi pendorong harga yang sangat kuat.
  • Permintaan Investasi yang Kuat: Permintaan investasi emas melonjak 84% secara tahunan menjadi 2.175,3 ton pada tahun 2025, menunjukkan pergeseran minat investor ke aset lindung nilai.
  • De-dolarisasi dan Utang AS: Upaya de-dolarisasi oleh beberapa negara dan lonjakan utang pemerintah AS yang mencapai US$38,42 triliun per Desember 2025 turut memperkuat daya tarik emas.

Prospek Saham ANTM di Tengah Reli Emas

Di pasar domestik, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diperkirakan akan menikmati dampak positif dari reli harga emas global. Saham ANTM dinilai masih berada dalam tren naik jangka panjang. NHKSI Research merekomendasikan target harga Rp4.600 untuk ANTM, sementara Mirae Asset Sekuritas bahkan memprediksi target harga bisa mencapai Rp5.725.

Beberapa faktor yang mendukung prospek cerah ANTM meliputi:

  • Harga Emas Global yang Tinggi: ANTM diuntungkan langsung dari harga emas dunia yang stabil di atas US$5.000 per ons. Margin laba dari divisi pemurnian logam mulia ANTM diprediksi akan sangat kuat pada kuartal I-2026.
  • Permintaan Domestik yang Kuat: Antusiasme masyarakat terhadap emas bermerek Antam tetap tinggi, meskipun sempat terjadi keluhan mengenai sulitnya mendapatkan nomor antrean daring.
  • Pemulihan Pasokan Domestik: Produksi nasional diproyeksikan pulih secara bertahap dengan kembali beroperasinya tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia pada kuartal II-2026, setelah sempat terhenti akibat longsor pada September 2025.
  • Diversifikasi Bisnis dan Ekspansi: Selain emas, ANTM juga memiliki bisnis nikel dan bauksit yang kuat. Ekspansi smelter RKEF pada 2027 dan HPAL pada 2028 diharapkan akan memperkuat prospek jangka panjang perseroan.

Meskipun demikian, ANTM juga menghadapi tantangan, seperti penurunan volume penjualan emas pada kuartal IV-2025 akibat masalah pasokan dari Grasberg. Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menurunkan kuota produksi bijih nikel untuk tahun 2026, yang berpotensi memengaruhi profitabilitas setelah Maret 2026. Namun, secara keseluruhan, analis tetap optimistis terhadap kinerja ANTM, dengan OCBC Sekuritas memprediksi laba bersih perseroan dapat mencapai Rp11 triliun pada tahun 2026.