Harga emas dunia menunjukkan penguatan signifikan pada akhir Maret 2026, melonjak lebih dari 3% pada perdagangan Jumat (27/3/2026) dan siap mencatat kenaikan mingguan. Kenaikan ini terjadi setelah logam mulia sempat terkoreksi tajam, bahkan menyentuh level terendah dalam empat bulan terakhir. Investor memanfaatkan momen koreksi harga untuk kembali melakukan aksi beli di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi.
Pada Jumat, 27 Maret 2026, harga emas di pasar spot naik 3,6% menjadi USD 4.536,29 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman April juga bertambah 3,6% menjadi USD 4.533,70. Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harga emas sempat anjlok ke titik terendah empat bulan di USD 4.097,99 per ons pada awal pekan.
Dinamika Harga Emas Domestik dan Global
Di pasar domestik, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga menunjukkan pergerakan positif. Pada Sabtu, 28 Maret 2026, harga emas Antam satuan 1 gram dibanderol Rp 2.837.000 per batang, naik Rp 27.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Harga buyback atau pembelian kembali juga menguat Rp 47.000 menjadi Rp 2.461.000 per gram. Sebelumnya, pada 26 Maret 2026, harga emas Antam berada di kisaran Rp 2.850.000 per gram, terkoreksi dari puncaknya di angka Rp 2.995.000 saat periode Lebaran.
Secara historis, emas mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar USD 5.608,35 pada Januari 2026. Namun, selama sebulan terakhir hingga 27 Maret 2026, harga emas global telah turun 15,55%, meskipun masih 45,74% lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu.
Faktor Pendorong dan Penekan Harga Emas
Pergerakan harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terutama ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Konflik yang telah memasuki minggu keempat ini memicu kekhawatiran inflasi global akibat lonjakan harga energi. Namun, sinyal-sinyal de-eskalasi, seperti janji Presiden AS Donald Trump untuk tidak menargetkan fasilitas energi Iran hingga 6 April, memberikan sedikit kelegaan bagi pasar.
Di sisi lain, ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) juga menjadi penentu penting. Kenaikan suku bunga yang tinggi oleh The Fed untuk mengatasi inflasi membuat obligasi pemerintah AS lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, jika konflik mereda dan ekspektasi penurunan suku bunga kembali muncul, emas berpotensi menguat. Daniel Pavilonis, Senior Market Strategist RJO Futures, menyatakan, “Penurunan harga emas baru-baru ini menciptakan peluang yang sangat bagus karena pasar mengalami penurunan. Harga turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Ini adalah waktu yang luar biasa untuk membeli emas.”
Joseph Cavatoni, ahli strategi pasar senior untuk Amerika Utara di World Gold Council, menjelaskan kompleksitas interaksi faktor-faktor ini. Ia mengatakan, “Risiko geopolitik masih ada, tetapi berinteraksi dengan inflasi, harga energi, dan kebijakan moneter dengan cara yang lebih kompleks, artinya pergerakan suku bunga dan mata uang memiliki dampak yang lebih langsung pada pergerakan harga.” Cavatoni juga menambahkan bahwa permintaan bank sentral yang terus solid dan latar belakang utang yang tinggi serta ketidakpastian global tetap mendukung emas sebagai diversifikasi portofolio.
Proyeksi Harga Emas ke Depan
Meskipun terjadi koreksi, sebagian besar analis tetap optimis terhadap prospek harga emas di tahun 2026. Deutsche Bank merevisi proyeksi harga emas untuk tahun 2026 dengan menaikkan target ke level USD 4.450 per troy ons, dari estimasi sebelumnya sebesar USD 4.000, didasarkan pada arus investasi yang solid dan permintaan bank sentral global. Metals Focus bahkan memperkirakan harga emas akan mencapai USD 5.000 per troy ons pada akhir tahun ini.
WalletInvestor memproyeksikan harga emas akan naik secara stabil sepanjang tahun, berpotensi mencapai puncaknya di USD 5.714,67 pada Desember 2026. Sementara itu, Commerzbank juga menaikkan perkiraan target akhir tahun menjadi USD 5.000 per ounce, meyakini koreksi harga baru-baru ini tidak akan berlangsung lama. Bahkan, UBS menaikkan target harga emas 2026 menjadi USD 6.200 per troy ounce.
Analis pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi harga emas Antam akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 2.800.000 hingga Rp 2.980.000 per gram pada Jumat, 27 Maret 2026. Peter Schiff, salah satu pendukung emas terkemuka, bahkan meyakini emas bisa menembus USD 11.400 atau sekitar Rp 192.637.200 jika mengulangi pola kenaikan pasca-krisis 2008.