Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya pada Senin, 2 Maret 2026, dengan melonjak tajam hingga menembus level US$5.300 per troy ons. Kenaikan signifikan ini terjadi di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran, yang mendorong investor mencari aset aman atau safe haven.
Pada pagi hari ini, harga emas global tercatat melonjak 1,4% mencapai US$5.360,49 per troy ons. Bahkan, harga emas spot terpantau di level US$5.346,52 per ons troi pada pukul 09.58 WIB. Ini menandai pertama kalinya harga emas kembali melampaui US$5.300 sejak Desember 2025. Analis memprediksi, secara teknikal, harga emas berpotensi menyentuh US$5.418 per ons, dengan target resistensi terdekat di US$5.395 per troy ons dan kemungkinan mencapai US$5.418 hingga US$5.434 per troy ons. Target paling optimistis bahkan menunjuk ke US$5.519 per troy ons.
Kenaikan harga emas ini tak lepas dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran dilaporkan telah mengakibatkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini sontak memicu ketidakstabilan ekonomi dan politik yang meluas, mendorong investor untuk mengurangi eksposur risiko di tengah tingginya volatilitas pasar global.
Presiden AS Donald Trump, pada Minggu (1/3/2026), menyatakan bahwa perang melawan Iran bisa berlangsung hingga satu bulan atau empat minggu. Sementara itu, Iran telah melancarkan serangan balasan yang menargetkan pangkalan militer AS di beberapa negara tetangga, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah. Insiden ini juga dilaporkan menewaskan tiga tentara AS dan melukai lima lainnya akibat serangan rudal Iran. Palang Merah Iran mencatat, konflik ini telah menyebabkan sekitar 201 orang meninggal dan 747 lainnya luka-luka, serta mengganggu infrastruktur sipil dan memicu penutupan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz. Sebagai respons, Uni Emirat Arab bahkan telah menutup kedutaannya di Teheran dan menarik staf diplomatiknya.
Di pasar domestik, harga emas Antam 1 gram pada Senin, 2 Maret 2026, tercatat Rp3.135.000. Harga ini mendekati rekor tertinggi sepanjang sejarah yang pernah dicetak pada Kamis, 29 Januari 2026, yakni Rp3.168.000 per gram. Proyeksi harga emas global untuk tahun 2026 secara umum menunjukkan bias bullish, dengan beberapa lembaga keuangan besar memprediksi kenaikan harga emas per ons sepanjang tahun ini, bahkan menargetkan US$5.000 hingga US$6.000 per troy ounce.
Lonjakan harga emas dunia ini turut menyeret performa saham emiten emas di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (2/3/2026) pagi. Sejumlah saham emiten emas mencatatkan penguatan signifikan:
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melonjak 5,56% ke level Rp3.420.
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 5,32% ke posisi Rp1.980.
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 7,21% ke level Rp1.040.
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 4,59% ke level Rp4.550.
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menguat 4,51% di posisi Rp8.700.
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) melesat 3,63% di posisi Rp570.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 4,00% ke level Rp3.900.
Saham ANTM dan EMAS disebut menjadi pilihan utama untuk eksposur sektor emas pada tahun 2026. Proyek Emas Pani milik PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) bahkan diproyeksikan menjadi salah satu tambang emas terbesar di Indonesia dan Asia Pasifik, dengan kapasitas produksi puncak mencapai 500.000 ounce per tahun pada 2033.