Harga emas global kembali menunjukkan sinyal penguatan pada Jumat, 27 Februari 2026, melanjutkan tren positif yang terlihat dalam beberapa hari terakhir. Logam mulia ini terus menjadi sorotan investor di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik dunia yang penuh ketidakpastian, memicu pertanyaan krusial: apakah ini saat yang tepat untuk menjual atau justru membeli?
Pada perdagangan Kamis (26/2/2026), harga emas spot tercatat naik 0,3% menjadi US$5.180,23 per ons troi, melanjutkan penguatan dari hari sebelumnya. Meskipun pada pagi hari Jumat (27/2/2026) sempat terjadi sedikit koreksi dengan harga spot di pasar dunia berada di US$5.175,25 USD/ounce, turun 0,74% dibandingkan hari sebelumnya, tren penguatan jangka panjang tetap dominan. Sepanjang Februari 2026, emas telah menunjukkan performa impresif, dengan kenaikan 3,15% dalam sebulan terakhir dan melonjak 77,07% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sebelumnya, emas telah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.594,82 per ons pada 29 Januari 2026. Di pasar domestik, harga emas Antam 1 gram pada Jumat, 27 Februari 2026, berada di kisaran Rp3.039.000 per gram, menunjukkan kenaikan tipis dari hari sebelumnya. Harga emas Antam juga pernah mencapai rekor tertinggi di level Rp3.168.000 per gram pada tanggal yang sama dengan rekor global, 29 Januari 2026.
Faktor Pendorong Reli Emas
Kenaikan harga emas yang signifikan ini ditopang oleh berbagai faktor fundamental. Pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu pendorong utama, membuat emas lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Selain itu, meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian kebijakan tarif AS dan perkembangan perundingan antara AS dan Iran turut mendongkrak daya tarik emas.
Ketegangan geopolitik global, dinamika perdagangan internasional, serta potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) juga menjadi katalis utama penguatan harga emas. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi lebih menarik bagi investor.
Fenomena de-dolarisasi yang dilakukan oleh bank sentral berbagai negara juga memperkuat posisi emas. Bank sentral global, termasuk The Fed, Rusia, China, dan negara-negara BRICS, secara agresif meningkatkan cadangan emas mereka sebagai strategi diversifikasi dari dolar AS. Produksi emas global yang melambat juga turut mempersempit pasokan di pasar.
Proyeksi Analis: Emas Menuju US$6.300
Sejumlah lembaga keuangan terkemuka global optimistis terhadap prospek emas hingga akhir 2026. NH Korindo Sekuritas Indonesia (NHKSI) mempertahankan rekomendasi ‘Overweight Gold’ dengan target harga akhir tahun di US$6.000 per troy ounce. Ezaridho Ibnutama, Head of Research NHKSI, dan Axell Ebenhaezer, Senior Research Analyst NHKSI, menyatakan, “kenaikan tensi geopolitik, dinamika perdagangan global, serta potensi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi katalis utama penguatan harga emas tahun ini.”
JP Morgan bahkan lebih agresif, menaikkan proyeksi jangka panjang harga emas menjadi USD4.500 per ons dan mempertahankan proyeksi akhir 2026 di level tinggi, yakni USD6.300 per ons. Bank of America juga memperkirakan harga akan mencapai US$6.000 per ons dalam 12 bulan ke depan. Goldman Sachs menargetkan harga emas dunia bisa tembus US$4.900 per troy ounce di akhir 2026. Sementara itu, UBS memprediksi harga logam mulia ini akan mencapai US$6.200 per troy ounce dalam beberapa bulan mendatang.
Dilema Investor: Jual atau Beli?
Dengan tren kenaikan yang kuat, muncul dilema bagi investor: apakah ini saatnya untuk merealisasikan keuntungan atau justru menambah kepemilikan emas? Survei World Gold Council menunjukkan bahwa 65% responden Indonesia memilih emas sebagai kelas aset favorit, menjadikannya alternatif lindung nilai yang lebih menarik dibandingkan suku bunga deposito sekitar 3,5%.
Para ahli menyarankan strategi investasi yang seimbang. Investor disarankan untuk mempertahankan sebagian besar porsi emas (60-70%) dalam portofolio untuk lindung nilai jangka panjang, sambil memanfaatkan 30-40% sisanya untuk ‘swing trading’ saat terjadi volatilitas. Emas fisik tetap menjadi pilihan utama untuk lindung nilai, sementara saham emas seperti Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Merdeka Gold Resources (EMAS) menawarkan potensi pertumbuhan.
Meskipun tahun 2026 diproyeksikan masih menjadi panggung megah bagi emas, investor perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung setelah reli panjang. Penguatan dolar AS atau stabilnya kondisi global secara cepat juga dapat menjadi risiko. Bahkan, beberapa analis memprediksi potensi penurunan tajam di tahun 2027 jika pemulihan ekonomi global terjadi lebih cepat dari perkiraan.