Harga emas global kembali menunjukkan taringnya pada awal Maret 2026, melonjak tajam seiring memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik bersenjata yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memicu gelombang kekhawatiran di pasar komoditas, mendorong investor memburu aset lindung nilai seperti logam mulia.
Pada Senin, 2 Maret 2026, harga emas untuk pengiriman April di Commodity Exchange tercatat US$5.377,20 per ons troi, mengalami kenaikan signifikan 2,46% dari penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di level US$5.247,90 per ons troi. Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan yang telah terlihat sepanjang awal tahun 2026. Bahkan, emas sempat mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar US$5.608,35 pada Januari 2026.
Emas Domestik Ikut Melesat, Antam Tembus Rp3,3 Juta per Gram
Dampak gejolak global ini juga terasa di pasar domestik. Harga emas batangan Antam di Pegadaian pada 2 Maret 2026, misalnya, mencapai Rp3.332.000 per gram untuk harga jual, dengan harga buyback Rp2.933.000. Sebelumnya, pada 1 Maret 2026, harga emas Galeri 24 ukuran 1 gram naik Rp38.000 menjadi Rp3.130.000, sementara emas UBS 1 gram naik Rp44.000 menjadi Rp3.167.000. Rekor harga emas Antam sendiri tercatat pada 29 Januari 2026, mencapai Rp3.168.000 per gram.
Analis Proyeksikan Emas Capai US$6.000 per Ons
Para analis pasar memproyeksikan harga emas akan terus menguat jika ketegangan di Timur Tengah berlanjut. Pengamat Pasar Modal dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan, “Ada indikasi, jika perang masih terus berkecamuk, kemungkinan besar level 6.000 dollar AS per troy ons akan tercapai di bulan Maret ini.” Ia juga memperkirakan harga emas dunia dalam waktu dekat akan bergerak di kisaran US$5.365-US$5.500 per troy ons, dengan potensi penutupan mingguan di level US$5.500. Untuk emas Antam, Ibrahim memprediksi harganya bisa menembus Rp3.400.000 per gram.
Sejumlah lembaga keuangan global juga optimistis terhadap prospek emas. UBS menaikkan target harga emas menjadi sekitar US$6.200 per troy ounce untuk bulan Maret 2026. Sementara itu, JP Morgan memproyeksikan harga emas bisa mencapai hingga US$6.300 per ons pada akhir tahun 2026. Deutsche Bank merevisi proyeksi harga emas untuk tahun 2026 ke level US$4.450 per troy ons, dari estimasi sebelumnya US$4.000. Bank of America juga meningkatkan perkiraan harga emas untuk 2026 menjadi US$5.000 per troy ons.
Konflik Timur Tengah Jadi Katalis Utama
Pemicu utama lonjakan harga emas adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada Sabtu, 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran. Serangan ini bahkan mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Iran bersumpah akan membalas kematian Khamenei dengan melancarkan gelombang serangan balas dendam “skala besar” ke Tel Aviv dan pangkalan militer AS di sejumlah negara Arab.
Eskalasi ini juga berdampak pada jalur distribusi minyak global. Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan tenggelam setelah dihantam rudal Iran di Selat Hormuz. Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi distribusi energi dunia dan melayani sekitar 30% perdagangan minyak global, kini terancam ditutup oleh pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC). Kekhawatiran ini sontak membuat harga minyak mentah Brent menembus level psikologis di atas US$80 per barel, bahkan mencapai puncak US$82,37 per barel.
Ibrahim Assuaibi menegaskan, “Ini adalah awal babak baru perang pada Maret 2026 yang terjadi di Timur Tengah. Dampaknya cukup luar biasa, kemungkinan besar harga emas naik, logam mulia naik, rupiah melemah. Jika harga minyak mentah naik, ini juga akan berdampak pada sektor turunannya.”
Dampak ke Indonesia: Rupiah Melemah dan APBN Tertekan
Bagi Indonesia, dampak konflik ini diperkirakan lebih besar melalui kanal energi dan keuangan, bukan perdagangan langsung. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menjelaskan, “Yang berbahaya bukan trade channel, tetapi oil channel.” Ia menambahkan, eskalasi geopolitik Israel-Iran bagi Indonesia pada dasarnya adalah “energy and financial shock”.
Kenaikan harga minyak dunia akan memperbesar kebutuhan kompensasi dan subsidi energi, yang pada akhirnya mempersempit ruang fiskal pemerintah. Selain itu, nilai tukar rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp17.000 per dolar AS jika ketegangan terus meningkat. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk memastikan APBN dapat berfungsi sebagai shock absorber guna meredam transmisi konflik, terutama pada energi dan pangan. Fokus utama adalah menjaga daya beli masyarakat jika terjadi fluktuasi harga komoditas.
Di tengah ketidakpastian ini, emas semakin dicari sebagai aset lindung nilai. Chief Marketing Officer Nanovest, Jovita Widjaja, mengungkapkan, “Yang sekarang peak up banget yang pasti gold. Karena di kondisi geopolitik ini gold itu naik banyak banget. Jadi user untuk yang membeli gold itu lagi banyak banget.” Manajer Portofolio dan Emas di Van Eck, Imaru Casanova, juga memprediksi bahwa meningkatnya risiko geopolitik, ketegangan perdagangan, kekhawatiran inflasi, potensi dolar AS melemah, dan risiko koreksi di pasar ekuitas akan terus mendukung harga emas pada tahun 2026 dan seterusnya.