Harga Emas Melonjak, Tembus Level Tertinggi Sebulan Didorong Ketegangan Geopolitik dan Tarif AS

Author Image

Hodak

28 Februari 2026

Harga emas global terus menunjukkan performa gemilang, mencapai level tertinggi dalam hampir sebulan pada Jumat, 27 Februari 2026. Logam mulia ini bahkan bersiap mencatat kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut, sebuah tren yang mengindikasikan kuatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Pada penutupan perdagangan Jumat, harga emas global ditutup pada US$5.277,29 per troy ons, menguat signifikan sebesar 1,74%. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 30 Januari 2026. Sepanjang Februari, harga emas telah melonjak 7,6%. Sementara itu, di pasar domestik, harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. untuk satuan 1 gram pada Sabtu, 28 Februari 2026, dibanderol Rp3.085.000 per batang, naik Rp40.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Kenaikan ini melanjutkan tren positif selama tiga hari berturut-turut, dengan harga buyback juga turut meningkat.

Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas

Kenaikan harga emas yang berkelanjutan ini didorong oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik. Perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berkepanjangan, serta kemungkinan operasi militer AS, telah memicu kekhawatiran di pasar. Kedutaan Besar AS di Yerusalem bahkan mengizinkan staf non-darurat dan keluarga untuk meninggalkan Israel karena risiko keamanan.

Phillip Streible, kepala strategi pasar di Blue Line Futures, menyoroti sentimen ini. “Ada banyak kegelisahan terkait geopolitik, semua skenario menunjukkan probabilitas tinggi operasi militer pada akhir pekan, sehingga terjadi risk-off dan pelarian ke aset aman,” ujarnya.

Selain itu, kebijakan perdagangan AS yang agresif juga menjadi pemicu. Pemerintah AS telah mengaktifkan Pasal 122 untuk menerapkan tarif global sebesar 10%, dengan potensi kenaikan menjadi 15%. Kebijakan ini menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi dan meningkatkan daya tarik emas sebagai lindung nilai. Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, menjelaskan, “Ada dampak inflasi dari tarif dan harga minyak yang tinggi, terutama jika serangan akan segera terjadi, dan saya pikir ada juga beberapa lindung nilai oleh investor, yang mungkin beralih ke emas.”

Faktor lain yang turut menopang harga emas adalah ekspektasi suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang lebih rendah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang turun ke level terendah tiga bulan membuat emas, yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi lebih menarik. Pasar saat ini melihat peluang 42% pemangkasan suku bunga 25 basis poin oleh The Fed pada Juni.

Peran Bank Sentral dan Proyeksi Masa Depan

Permintaan yang kuat dari bank sentral global juga menjadi salah satu pilar utama penguatan harga emas. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Tommy Andana, menjelaskan bahwa kenaikan harga emas didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe-haven dan pembelian oleh sejumlah bank sentral global. Data menunjukkan, pembelian emas oleh bank sentral meningkat tajam sejak 2022, dengan 95% bank sentral memperkirakan cadangan emas global akan naik pada 2025.

Prospek harga emas ke depan masih terlihat cerah. Beberapa analis dan lembaga keuangan besar telah merevisi target harga emas mereka ke atas. JP Morgan memproyeksikan harga emas dapat mencapai US$6.300 per ons pada akhir 2026. Sementara itu, UBS menargetkan US$6.200 per ons pada pertengahan 2026, dan Bank of America memperkirakan US$6.000 per ons dalam 12 bulan ke depan. Bahkan, beberapa analis memprediksi emas berpotensi menembus US$10.000.

Meskipun demikian, permintaan emas fisik di beberapa negara seperti India sempat terbatas akibat tingginya harga. Namun, aliran masuk ke Exchange-Traded Fund (ETF) emas menunjukkan minat investor institusional tetap tinggi, dengan total 22 ton masuk minggu ini. Penguatan harga emas ini juga tercermin pada Harga Patokan Ekspor (HPE) emas untuk periode awal Maret 2026 yang meningkat dari US$159.475,43 per kilogram menjadi US$161.568,53 per kilogram.