Harga emas dunia kembali menjadi sorotan tajam di pasar keuangan global. Pada Sabtu, 28 Maret 2026, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melonjak signifikan, mencapai Rp2.837.000 per gram, naik Rp27.000 dari hari sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan harga emas di pasar internasional yang menunjukkan tren penguatan, meskipun sempat mengalami koreksi tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Di pasar spot global, harga emas tercatat stabil di kisaran US$4.460 per ons pada 28 Maret 2026, setelah sebelumnya sempat menyentuh US$4.495,05 per troy ounce pada 27 Maret. Namun, pergerakan ini terjadi setelah emas sempat anjlok ke level terendah empat bulan di US$4.097,99 pada 23 Maret, memicu aksi “buy on dip” atau pembelian saat harga turun oleh para investor.
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
Lonjakan harga emas ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor fundamental dan psikologis. Ketegangan geopolitik global, terutama konflik yang terus berlanjut di Timur Tengah antara AS-Israel dan Iran, serta perang Rusia-Ukraina, menjadi pemicu utama permintaan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Situasi ini menciptakan ketidakpastian ekonomi dan politik yang mendorong investor beralih ke aset yang dianggap aman.
Selain itu, kekhawatiran inflasi yang masih tinggi juga turut menopang harga emas. Harga minyak yang bertahan di atas US$110 per barel terus memicu tekanan inflasi, menjadikan emas pilihan menarik untuk melindungi nilai aset dari gerusan inflasi. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang cenderung melonggarkan suku bunga juga sempat membuat emas lebih atraktif, meskipun kini pasar mulai menggeser proyeksi tersebut di tengah konflik yang memanas.
Aksi Borong Bank Sentral dan Investor Institusional
Salah satu pendorong struktural terbesar di balik kenaikan harga emas adalah aksi borong besar-besaran oleh bank sentral global dan investor institusional. Fenomena ini, yang sering disebut sebagai “quiet panic”, menunjukkan pergeseran strategi cadangan devisa dari ketergantungan pada dolar AS menuju diversifikasi ke emas fisik. Shaokai Fan, Kepala Global Bank Sentral World Gold Council (WGC), menyebutkan bahwa bank sentral dari negara-negara seperti Guatemala, Indonesia, dan Malaysia mulai aktif membeli emas. Negara-negara seperti Tiongkok, Polandia, Turki, India, dan Singapura juga tercatat sebagai pembeli emas terbesar di tahun 2026.
Pembelian emas oleh bank sentral ini bersifat stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga jangka pendek, memberikan dukungan fundamental yang kuat bagi pasar. “Fenomena ‘Quiet Panic’ di mana bank sentral memborong 2.300 ton emas adalah sinyal terkuat bahwa definisi ‘aset bebas risiko’ telah bergeser; investor tidak bisa lagi hanya mengandalkan mata uang fiat, melainkan harus mendiversifikasi kekayaan ke aset berdaulat seperti Emas dan Bitcoin untuk menghadapi Supercycle ini.” Investor ritel dan hedge fund cenderung mengikuti pergerakan “smart money” ini, menciptakan efek bola salju pada kenaikan harga.
Proyeksi Harga Emas Menuju Level Tertinggi Baru
Sejumlah lembaga keuangan internasional kompak merevisi naik proyeksi harga emas untuk tahun 2026. UBS, misalnya, menaikkan target harga emas menjadi sekitar US$6.200 per troy ounce untuk periode Maret, Juni, dan September 2026, bahkan melihat potensi mencapai US$7.200 dalam skenario ekstrem. Metals Focus memproyeksikan harga emas akan menembus US$5.000 per ons pada tahun 2026, dengan harga rata-rata US$4.560.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan harga emas pada kuartal I-2026 bergerak di kisaran US$4.300–US$4.600 per ons troi, dengan peluang melanjutkan kenaikan menuju sekitar US$5.000 hingga akhir tahun. Senada, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi optimistis harga emas dunia tahun 2026 akan tembus di atas level US$6.000 per troy ons. Goldman Sachs juga memprediksi harga emas berpotensi mencapai US$4.900 per ons troi pada akhir 2026.
Meskipun demikian, beberapa analis juga memperingatkan potensi koreksi harga menjelang akhir tahun 2026, dipengaruhi oleh stabilisasi kondisi geopolitik atau penguatan dolar AS. Namun, secara keseluruhan, prospek jangka panjang emas tetap positif, didukung oleh utang pemerintah global yang tinggi, kebijakan moneter akomodatif, dan tren de-dolarisasi yang terus berlanjut.