Harga gas alam cair (LNG) di Eropa melonjak tajam hingga 25% pada awal Maret 2026, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Ketegangan ini secara signifikan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan besar terhadap pasokan energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang vital.
Serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang menargetkan Iran, termasuk ibu kota Teheran, telah memicu gejolak pasar global. Insiden tersebut juga dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan yang menargetkan beberapa negara, memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut.
Selat Hormuz, Nadi Energi Global di Ambang Krisis
Kenaikan harga gas acuan berjangka, yang merupakan lonjakan terbesar sejak Agustus 2023, terjadi setelah lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz dilaporkan sebagian besar terhenti selama akhir pekan. Selat sempit ini merupakan jalur pengiriman utama untuk energi, mengalirkan sekitar 20% ekspor gas alam cair (LNG) dunia dan hampir 20 juta barel minyak per hari. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menegaskan bahwa posisi geografis Iran yang strategis memberikan daya tekan besar terhadap stabilitas energi dunia.
Dampak langsung dari ketegangan ini terlihat dari laporan pengalihan rute setidaknya 13 kapal tanker LNG kosong yang sebelumnya berada di sisi timur Selat Hormuz kini telah mengalihkan rute mereka. Ekspor LNG dari Qatar, yang merupakan pemasok terbesar kedua di dunia setelah AS, sangat bergantung pada jalur ini untuk mencapai pasar di Asia dan Eropa. Leslie Palti-Guzman, pendiri perusahaan penasihat energi dan perkapalan Energy Vista, menyatakan bahwa pengiriman LNG akan terus mengalami gangguan, dan para pedagang harus bersiap menghadapi penundaan. “Kita berada di wilayah yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.
Eropa dalam Posisi Rentan
Eropa menjadi salah satu kawasan yang paling rentan terhadap gejolak ini. Meskipun negara-negara Asia membeli sebagian besar LNG dari Timur Tengah, gangguan pasokan apa pun akan meningkatkan persaingan global untuk kargo alternatif, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga di seluruh dunia, termasuk di Eropa. Kondisi ini diperparah oleh tingkat persediaan gas Eropa yang rendah, berada di bawah 31% dibandingkan 40% pada periode yang sama tahun lalu. Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan bahwa jika pengiriman melalui Selat Hormuz terhenti selama sebulan, harga gas Eropa bisa melonjak lebih dari dua kali lipat.
Volatilitas harga gas di Eropa tetap tinggi, sebagian karena perubahan struktur pasar dari gas pipa yang stabil menjadi LNG yang lebih “spot-driven”, menjadikannya lebih sensitif terhadap berita geopolitik. Uni Eropa sendiri telah mengambil langkah signifikan untuk mengurangi ketergantungan pada gas Rusia, dengan kesepakatan untuk menghentikan impor LNG Rusia paling lambat akhir 2026 dan gas pipa pada 2027. Hal ini membuat Eropa semakin bergantung pada pasokan LNG dari sumber lain, termasuk dari Timur Tengah.
Dampak Ekonomi Global dan Respons Indonesia
Konflik ini berisiko menimbulkan guncangan paling serius terhadap pasar gas sejak invasi Rusia ke Ukraina empat tahun lalu. Jika Selat Hormuz ditutup, harga minyak dunia hampir pasti akan melonjak tajam, memicu guncangan ekonomi global. Lonjakan harga energi ini berpotensi memicu efek berantai, termasuk peningkatan inflasi, penahanan suku bunga tinggi oleh bank sentral, melemahnya investasi dan konsumsi, hingga perlambatan pertumbuhan global yang berujung pada risiko resesi.
Di pasar keuangan, nilai tukar euro melemah sementara dolar AS melonjak pada 2 Maret 2026, karena investor mencari aset yang dianggap aman (safe haven) di tengah ketidakpastian. Menanggapi potensi gangguan ini, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan langkah antisipasi dengan mengamankan sumber pasokan alternatif di luar Timur Tengah. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa pemerintah telah menjalin kerja sama dengan pemasok non-Timur Tengah, termasuk melalui nota kesepahaman antara Pertamina dengan perusahaan energi global seperti Chevron dan ExxonMobil di Amerika Serikat.