Harga Minyak dan CPO Terjun Bebas pada 10 Maret, Meredanya Tensi Timur Tengah Jadi Pemicu

cpo, minyak mentah, timur tengah, harga komoditas, biodiesel

Harga global dan minyak kelapa sawit () mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026. Koreksi tajam ini terjadi setelah kedua komoditas tersebut sempat mencatatkan lonjakan harga yang substansial di awal bulan, seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan akibat konflik geopolitik di .

Minyak Mentah Anjlok Setelah Reli

Pada 10 Maret 2026, harga minyak mentah Brent, patokan internasional, merosot USD6,51 atau 6,6 persen menjadi USD92,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), acuan pasar domestik AS, juga melemah USD6,12 atau 6,5 persen menjadi USD88,65 per barel. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan bahwa konflik di Timur Tengah mungkin akan segera berakhir, meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.

Sebelumnya, pada Senin, 9 Maret 2026, harga minyak dunia sempat melonjak tajam, menembus level USD100 per barel. Minyak Brent bahkan mencapai USD114,02 per barel, sementara WTI menyentuh USD113,79 per barel, menandai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran akan gangguan besar terhadap pasokan global.

CPO Ikut Tertekan Setelah Sempat Melonjak

Sejalan dengan pergerakan minyak mentah, harga CPO juga mengalami tekanan pada 10 Maret 2026. Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange berada di posisi MYR 4.439 per ton, turun 2,81% dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini mengakhiri periode penguatan yang signifikan di awal Maret, di mana harga CPO sempat melonjak ke level tertinggi dalam setahun terakhir, mencapai MYR 4.803 per ton pada 9 Maret 2026.

Kenaikan harga CPO sebelumnya didorong oleh lonjakan harga minyak mentah dunia, yang meningkatkan prospek permintaan bahan baku . Harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati pesaingnya, seperti minyak kedelai dan minyak biji bunga matahari, serta harga minyak mentah karena bersaing dalam pasar yang sama.

Sentimen Pasar Berubah Cepat

Meredanya ketegangan di Timur Tengah menjadi faktor utama yang membalikkan arah harga komoditas energi dan turunannya. Pernyataan Presiden Trump yang mengindikasikan bahwa konflik dengan Iran mungkin mendekati akhir, serta dialog antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump, membantu menenangkan pasar yang sebelumnya diliputi kekhawatiran gangguan pasokan jangka panjang.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indonesia telah menetapkan Harga Referensi (HR) CPO untuk periode 1-31 Maret 2026 sebesar USD 938,87 per metrik ton, naik 2,22 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan HR CPO ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan dari negara importir utama seperti India dan China, yang tidak diimbangi dengan kenaikan pasokan.

Proyeksi dan Tantangan ke Depan

Meskipun terjadi lonjakan harga di awal Maret, beberapa proyeksi untuk tahun 2026 mengindikasikan potensi penurunan rata-rata harga CPO sebesar 2,55 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan pasokan dari negara produsen utama dan melemahnya permintaan biofuel disebut sebagai pemicu utama tekanan harga. Kekhawatiran akan kelebihan pasokan (oversupply) dan tantangan dalam implementasi penuh program mandatori biodiesel (B40 atau rencana B50) juga masih membayangi pasar CPO.