Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa ruang fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap kokoh dan aman, meskipun harga minyak mentah dunia sempat mengalami lonjakan signifikan hingga mendekati US$120 per barel. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa rata-rata harga minyak sejak awal tahun hingga saat ini masih berada di bawah asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2026.
ICP Februari 2026 Naik, Namun Rata-rata Tahunan Terkendali
Data terbaru menunjukkan, harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Februari 2026 ditetapkan sebesar US$68,79 per barel, meningkat US$4,38 dari bulan sebelumnya yang tercatat US$64,41 per barel. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, potensi gangguan pasokan global, serta peningkatan permintaan energi. Namun, Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa realisasi ICP secara year-to-date hingga Maret 2026 diperkirakan berada di kisaran US$68 per barel. Angka ini masih di bawah asumsi ICP dalam APBN 2026 yang sebesar US$70 per barel.
Lonjakan harga minyak mentah global sempat mencapai US$113,68 per barel untuk Brent dan US$113,25 per barel untuk West Texas Intermediate (WTI) pada 9-10 Maret 2026, jauh melampaui asumsi makro APBN. Bahkan, beberapa laporan menyebut harga sempat menembus US$118-119 per barel. Namun, harga minyak mentah WTI kemudian turun menjadi US$85,96 per barel pada 10 Maret 2026.
Kewaspadaan dan Strategi Pemerintah Hadapi Gejolak
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaiman, menguraikan bahwa kenaikan ICP pada Februari 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia, serangan terhadap fasilitas energi di Rusia, serta penurunan stok produk minyak di Amerika Serikat. Meskipun demikian, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru mengubah kebijakan fiskal. Ia menyatakan, pemerintah akan terus memantau pergerakan harga dan memastikan arahnya sebelum mengambil langkah penyesuaian.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menambahkan, pemerintah tetap mewaspadai risiko harga minyak di kisaran US$90-100 per barel, terutama jika gangguan di Selat Hormuz berkelanjutan. Namun, ia berharap konflik dapat mereda sehingga harga minyak kembali stabil di kisaran US$70-80 per barel.
Ketahanan Fiskal APBN 2026
Pemerintah telah menyiapkan cadangan fiskal (fiscal buffer) untuk meredam dampak eskalasi geopolitik dan fluktuasi harga komoditas. Postur APBN dirancang dengan prinsip fleksibilitas tinggi, didukung oleh pengelolaan yang pruden dan disiplin, dengan komitmen menjaga defisit di bawah 3% dari PDB. Kinerja APBN pada Januari 2026 menunjukkan soliditas, dengan pendapatan negara tumbuh 9,5% dan belanja terakselerasi 25,7%, serta defisit yang terkendali di 0,21% dari PDB.
Analisis sensitivitas Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa setiap kenaikan ICP sebesar US$1 per barel berpotensi menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga minyak rata-rata mencapai US$92 per barel sepanjang tahun tanpa penyesuaian kebijakan, defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6% dari PDB. Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, juga mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai lonjakan harga minyak yang bisa menekan APBN dan memperlebar defisit.
Meskipun nilai tukar rupiah sempat tertekan hingga Rp16.980 per dolar AS, melampaui asumsi APBN 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS, pemerintah optimis indikator makro ekonomi tetap terjaga. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat US$151,9 miliar, yang masih dianggap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal.