Harga Minyak Dunia Berfluktuasi, Perundingan Nuklir AS-Iran di Jenewa Alot

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

harga minyak, perundingan nuklir iran, amerika serikat, jenewa, donald trump

dunia menunjukkan pergerakan fluktuatif sebelum akhirnya ditutup melemah pada perdagangan Kamis dan Jumat, 26-27 Februari 2026. Dinamika ini terjadi seiring fokus pelaku pasar yang tertuju pada perkembangan perundingan nuklir antara (AS) dan Iran di .

Minyak mentah Brent tercatat turun 10 sen atau 0,14% menjadi USD 70,75 per barel pada penutupan Jumat, setelah sempat menguat tipis di level USD 70,85 per barel pada Kamis. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 21 sen atau 0,32% menjadi USD 65,21 per barel.

Ketegangan Geopolitik dan Tuntutan AS

Perundingan nuklir tidak langsung antara AS dan Iran, yang kini memasuki putaran ketiga, berlangsung di Jenewa. Delegasi AS, termasuk utusan khusus Steve Witkoff, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi. Namun, dialog ini diwarnai ketegangan seiring tuntutan Washington agar Teheran menghentikan sepenuhnya pengayaan uranium, termasuk menyerahkan seluruh uranium yang telah diperkaya hingga 60% kepada AS.

Presiden AS menegaskan tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir dan telah memerintahkan peningkatan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Sebagai bentuk tekanan, AS juga menjatuhkan sanksi baru terhadap lebih dari 30 entitas, individu, dan kapal yang diduga mendukung penjualan minyak ilegal serta produksi senjata Iran, termasuk menargetkan “armada kapal bayangan” Teheran.

Respons Iran dan Dampak Pasar

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa kesepakatan masih “dalam jangkauan, asalkan diplomasi menjadi prioritas.” Ia juga menyebut bahwa negosiasi berlangsung lebih serius dan konstruktif, mencapai kesepahaman umum mengenai “prinsip panduan” untuk menyusun kesepakatan. Namun, Iran menegaskan tidak akan tunduk pada tekanan.

Perpanjangan perundingan hingga pekan depan, yang dikonfirmasi oleh Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, sempat meredakan kekhawatiran pasar akan potensi serangan militer dalam waktu dekat. Hal ini mengurangi premi risiko geopolitik yang sempat mendorong harga minyak naik tajam. Namun, insiden militer seperti penembakan drone Iran oleh AS pada awal Februari dan manuver kapal bersenjata Iran di Selat Hormuz menunjukkan rapuhnya proses diplomasi.

Faktor Lain Penekan Harga

Selain dinamika geopolitik, lonjakan stok minyak mentah AS turut menekan harga. Data Administrasi Informasi Energi (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS melonjak sekitar 16 juta barel pekan lalu, jauh di atas perkiraan analis yang hanya 1,5 juta barel. Kondisi ini menambah sentimen pasar yang sudah memperkirakan adanya kelebihan pasokan global tahun ini.

Iran, sebagai produsen minyak terbesar ketiga di OPEC, memiliki peran krusial dalam pasokan global. Gangguan pasokan dari Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia, akan berdampak signifikan. Ke depan, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada hasil diplomasi AS-Iran serta langkah antisipasi dari produsen lain seperti Arab Saudi dan kelompok OPEC+ yang mempertimbangkan kenaikan output pada April.