Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Analis Peringatkan Potensi Tembus US$110/Barel Imbas Krisis Iran

iran, selat hormuz, harga minyak, konflik timur tengah, amerika serikat

dunia mengalami lonjakan signifikan pada Senin, 2 Maret 2026, menyentuh level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan (AS), Israel, dan menjadi pemicu utama kekhawatiran pasar global, terutama setelah terganggunya jalur distribusi minyak vital di .

Sejumlah analis memproyeksikan harga minyak mentah berpotensi menembus angka US$110 per barel jika ketegangan geopolitik ini terus berlanjut dan mengganggu pasokan energi global. Minyak mentah Brent sempat menembus level psikologis di atas US$80 per barel, mencapai puncak US$82,37 per barel sebelum bertahan di kisaran US$79,34, melonjak sekitar 8,8 persen dalam satu hari perdagangan. Sementara itu, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melonjak sekitar 8 persen ke level US$72,38 per barel.

Eskalasi Konflik dan Kematian Pemimpin Tertinggi Iran

Ketegangan militer di Timur Tengah meningkat tajam menyusul serangan udara dan rudal gabungan AS-Israel terhadap berbagai target di Iran pada 28 Februari 2026. Operasi militer yang dinamakan Operation Lion’s Roar ini menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran. Insiden krusial terjadi dengan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan udara gabungan tersebut. Kematian Khamenei dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran pada 1 Maret 2026, memicu gelombang ketegangan geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan berupa gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk. Serangan balasan Iran dilaporkan menghantam kawasan Tel Aviv di Israel, menyebabkan korban jiwa dan luka-luka. Selain itu, serangan Iran juga dilaporkan menimbulkan kerusakan di bandara dan fasilitas umum di negara Teluk seperti Uni Emirat Arab. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa operasi tempur akan terus berlanjut hingga semua tujuan tercapai, dan konflik ini berpotensi berlangsung hingga empat minggu lagi.

Selat Hormuz Lumpuh, Ancaman Pasokan Minyak Global

Dampak paling langsung dari eskalasi ini terasa di Selat Hormuz, jalur laut sempit yang sangat strategis. Selat ini merupakan satu-satunya rute laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi pusat transit utama ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk. Lebih dari 20 persen minyak dan volume besar gas dunia dipasok melalui selat ini setiap hari, menjadikannya urat nadi energi global.

Pemerintah Iran dikabarkan telah menutup Selat Hormuz setelah kematian Ali Khamenei, dan unit militer Iran mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal bahwa rute tersebut “tidak diizinkan dilintasi”. Laporan dari Badan keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), menyebutkan setidaknya tiga kapal diserang di Selat Hormuz pada 1 Maret 2026, dengan satu kapal dilaporkan tenggelam. Akibatnya, lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz anjlok hingga 70 persen per 1 Maret 2026, dengan mayoritas kapal memilih berputar arah, mengalihkan rute, atau berhenti sementara.

Praska Putrantyo, Chief Executive Officer (CEO) Edvisor Provina Visindo, memperingatkan bahwa jika konflik meluas hingga penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, harga minyak mentah WTI bisa tembus di atas US$100/barel atau bahkan US$110/barel. Senada, analis komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan WTI akan dengan mudah melewati level US$70/barel dalam jangka pendek, dan dapat tembus US$100/barel jika eskalasi berlangsung lama. Ia menambahkan, jika WTI naik, Brent hampir pasti akan mengikuti, mencapai sekitar US$105-US$110 per barel. Gangguan di Selat Hormuz dapat mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah sebesar 8 juta hingga 10 juta barel per hari.

Dampak Ekonomi Lebih Luas

Selain lonjakan harga minyak, konflik ini juga memicu kenaikan biaya asuransi kapal dan pengiriman karena meningkatnya risiko operasi di wilayah tersebut. Di tengah gejolak ini, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya (OPEC+) sepakat untuk meningkatkan kuota pasokan bulan depan sebesar 206.000 barel per hari dalam pertemuan akhir pekan.

Dampak ekonomi juga dirasakan di Indonesia. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa jika terjadi gangguan di Selat Hormuz, harga minyak global bisa melonjak, meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia. “Ini bisa memaksa pemerintah untuk merealokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial,” jelas Rahma. Selain itu, pelemahan rupiah juga bisa semakin dalam, bahkan berpotensi mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Konflik ini juga telah menyebabkan pembatalan dua jadwal penerbangan internasional di Bandara Kualanamu pada 1 Maret 2026, untuk rute Kualanamu-Jeddah dan Abu Dhabi-Kualanamu, akibat penutupan ruang udara di sejumlah negara Timur Tengah.