Harga minyak global melonjak signifikan pada Senin (2/3/2026) menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang secara drastis mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital bagi seperlima pasokan minyak dunia. Kenaikan harga ini dipicu oleh serangan balasan Iran setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026) yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Data menunjukkan harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 13% mencapai sekitar US$82 per barel pada Minggu (1/3/2026), sebelum kemudian stabil di atas US$76 per barel pada perdagangan Senin pagi. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) juga mengalami kenaikan sekitar 4% ke level US$69,67 per barel.
Gangguan Krusial di Jalur Energi Dunia
Selat Hormuz, yang terletak di antara Iran dan Oman, merupakan arteri utama bagi sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau lebih dari 20% perdagangan minyak global, serta volume besar gas alam cair (LNG). Gangguan di titik sempit ini segera memicu kekhawatiran serius di pasar energi internasional. Laporan terkini menunjukkan lebih dari 150 kapal tanker minyak dan LNG kini berlabuh di luar Selat Hormuz, menanti kejelasan situasi keamanan.
Beberapa perusahaan pelayaran besar, pemilik kapal, dan rumah dagang global telah mengambil langkah antisipatif dengan menghentikan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG melalui selat tersebut. Meskipun Angkatan Laut Inggris menyatakan instruksi Garda Revolusi Iran untuk tidak melintasi selat itu tidak memiliki kekuatan hukum internasional, Organisasi Maritim Internasional (IMO) merekomendasikan kapal komersial untuk menghindari area tersebut dan mencari rute alternatif. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, bahkan menyampaikan keprihatinan atas laporan adanya korban jiwa di kalangan pelaut komersial akibat eskalasi konflik.
Dampak Ekonomi dan Proyeksi Harga
Eskalasi konflik ini telah mendorong analis untuk menaikkan proyeksi harga minyak. Bank investasi Citi memperkirakan harga Brent akan bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel dalam skenario dasar selama setidaknya sepekan ke depan. Goldman Sachs mencatat adanya premi risiko sekitar US$18 per barel dalam harga minyak saat ini. Sementara itu, Wood Mackenzie memperingatkan bahwa harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika arus tanker melalui Selat Hormuz tidak segera pulih.
Saul Kavonic, kepala riset energi di MST Research, menyatakan bahwa pasar belum sepenuhnya panik, dengan adanya kejelasan bahwa infrastruktur transportasi dan produksi minyak belum menjadi target utama. Namun, Edmund King, Presiden AA, menegaskan, “Gejolak dan pemboman di seluruh Timur Tengah dipastikan akan menjadi katalisator yang mengganggu distribusi minyak global, yang secara tak terelakkan akan memicu kenaikan harga.”
Ancaman Inflasi dan Beban Subsidi di Indonesia
Bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, lonjakan harga ini berpotensi menimbulkan dampak langsung yang signifikan. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyoroti pentingnya Selat Hormuz sebagai “titik cekik ekonomi dunia” dan memperingatkan bahwa gangguan di sana pasti akan memicu kenaikan harga.
Kenaikan harga minyak mentah global diperkirakan akan memperbesar beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan bahwa setiap kenaikan US$1 harga minyak berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi di APBN sebesar Rp10,3 triliun. Jika harga minyak bertahan di atas asumsi APBN, pemerintah mungkin harus menaikkan harga BBM bersubsidi, yang pada gilirannya akan mendorong inflasi domestik. Andry memperkirakan, setiap kenaikan harga Pertalite sebesar 10 persen dapat menambah inflasi 0,27 poin persentase.
Selain itu, tekanan global ini juga berpotensi diikuti oleh pelemahan nilai tukar rupiah, yang akan membuat harga bahan baku impor lebih mahal dan semakin mendorong inflasi. Negara-negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan, yang menyerap sekitar 84% hingga 90% pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz, menjadi yang paling terdampak langsung oleh krisis ini.