Pasar energi global bergejolak hebat pada Senin (2/3/2026) setelah eskalasi konflik di Timur Tengah memuncak, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berujung pada kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sebagai respons, Iran dilaporkan telah menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga 13% menembus level di atas US$82 per barel pada pembukaan perdagangan.
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar manuver simbolis, melainkan pukulan langsung terhadap sistem energi global. Selat sempit ini merupakan ‘titik cekik’ ekonomi dunia, di mana sekitar 20% hingga 30% pasokan minyak mentah global, atau sekitar 15-20 juta barel per hari, serta 20% gas alam cair (LNG) diangkut melaluinya. Gangguan di jalur ini secara instan diterjemahkan pasar sebagai ancaman serius terhadap keseimbangan energi dunia.
Proyeksi Harga Minyak di Tengah Ketidakpastian
Sejumlah bank investasi global dan analis energi segera merespons dengan proyeksi harga yang bervariasi. Citigroup, misalnya, memperkirakan harga Brent akan bergerak di kisaran US$80–US$90 per barel setidaknya selama sepekan ke depan. Sementara itu, Goldman Sachs Group menghitung adanya premi risiko sekitar US$18 per barel dalam harga minyak saat ini, yang mencerminkan skenario penghentian total lalu lintas tanker selama enam minggu di Selat Hormuz.
Analis dari Rystad Energy, Jorge Leon, memperkirakan harga minyak mentah Brent berpotensi melonjak sekitar US$20 per barel pada awal perdagangan 2 Maret. Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, Leon menyebut harga minyak bisa mencapai US$100 per barel. Senada, Direktur Energi dan Pengilangan ICIS, Ajay Parmar, juga memproyeksikan harga minyak dapat meroket hingga US$100 per barel jika penutupan selat terus dilakukan.
Skenario Ekstrem dan Dampak Jangka Panjang
Dalam skenario yang lebih ekstrem, Citigroup menilai ada peluang 20% harga minyak bisa melonjak hingga US$120 per barel jika infrastruktur energi regional terdampak langsung oleh konflik. Bahkan, beberapa analisis menyebut harga minyak dapat mencapai kisaran US$120 hingga US$150 per barel jika Selat Hormuz benar-benar ditutup secara berkepanjangan. Praska Putrantyo, CEO Edvisor Provina Visindo, memproyeksikan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bisa menembus di atas US$100 atau US$110 per barel, dengan Brent mengikuti di kisaran US$105–US$110 per barel, jika konflik meluas dan penutupan Selat Hormuz berlangsung lama.
Jorge Leon dari Rystad Energy juga memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah global sebesar 8-10 juta barel per hari, bahkan setelah mengalihkan sebagian aliran melalui jalur pipa alternatif. Wood Mackenzie menambahkan, harga minyak berpotensi menembus US$100 per barel jika arus tanker melalui Selat Hormuz tidak segera pulih, menciptakan “dual supply shock” yang menghambat ekspor dan akses terhadap kapasitas cadangan OPEC+.
Gangguan Pelayaran dan Respons Pasar
Lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz dilaporkan praktis terhenti sepanjang akhir pekan. Banyak pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui selat tersebut setelah Teheran mengeluarkan peringatan. Beberapa situs pelacakan kapal menunjukkan adanya penumpukan kapal tanker di kedua sisi selat, menunggu karena kekhawatiran risiko serangan atau kesulitan memperoleh asuransi pelayaran.
Meskipun terdapat beberapa jaringan pipa darat seperti pipa Timur-Barat Arab Saudi (kapasitas 5 juta bph) dan pipa Abu Dhabi (kapasitas 1,5 juta bph), kapasitas ini dinilai tidak cukup untuk sepenuhnya menggantikan volume minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz. Upaya Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya (OPEC+) untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April 2026 juga dianggap terlalu kecil dan sebagian besar masih harus melewati selat yang sama, sehingga dampaknya terbatas.
Dampak Ekonomi Global dan Nasional
Lonjakan harga minyak mentah ini membawa efek domino yang serius, yakni ancaman lonjakan inflasi global. Kenaikan biaya energi secara otomatis akan mengerek biaya logistik dan ongkos produksi di berbagai sektor industri, yang pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen akhir melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, krisis ini sangat perlu diwaspadai. Kenaikan harga minyak dunia yang signifikan berisiko memperbesar beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, menekan stabilitas fiskal, serta meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi yang dapat menekan nilai tukar rupiah. Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menegaskan bahwa jika gangguan berlanjut, efeknya bisa sampai ke dapur rumah tangga. Situasi ini juga meningkatkan risiko resesi ekonomi global. Pasar finansial juga menunjukkan perilaku mencari aset aman, dengan harga emas melonjak tajam.