Harga tembaga global menunjukkan pergerakan yang fluktuatif di penghujung Februari 2026, dengan sedikit penurunan yang menghentikan reli dua hari terakhir. Para investor kini menanti sinyal pemulihan permintaan dari sektor industri di China, konsumen logam terbesar di dunia, setelah periode libur panjang Tahun Baru Imlek.
Menurut data Investing.com pada 27 Februari 2026, harga tembaga sempat menguat 0,93% mencapai level US$ 6,05 per pon. Namun, kontrak tembaga acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) tercatat turun 0,4% menjadi US$ 12.913 per metrik ton pada 23 Februari 2026. Fluktuasi ini terjadi setelah harga tembaga sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 14.527,50 pada 29 Januari 2026, didorong oleh sentimen pasokan yang ketat dan sinyal peningkatan penggunaan akhir yang lebih stabil.
Permintaan China Lesu, Stok Tembaga Menumpuk
Kondisi pasar tembaga saat ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi di China pasca-libur Imlek. Pembelian fisik di negara tersebut dilaporkan masih lesu, bahkan beberapa importir menahan diri untuk membeli karena harga yang sudah tinggi. Akibatnya, penumpukan persediaan tembaga di China terlihat lebih besar dari biasanya selama periode liburan.
Survei Shanghai Metals Market (SMM) menunjukkan, persediaan tembaga swasta di pusat-pusat konsumsi utama China, termasuk Shanghai, Guangdong, dan Jiangsu, melonjak hingga 531.700 ton pada Kamis, 26 Februari 2026. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak awal tahun 2020. Meskipun demikian, premi tembaga Yangshan, yang menjadi indikator permintaan impor China, telah naik menjadi US$ 53 per ton, level tertinggi dalam dua bulan, dari sekitar US$ 33 per ton sebelum liburan Imlek. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan minat beli. Namun, analis ING, Warren Patterson dan Ewa Manthey, mencatat bahwa peningkatan permintaan ini terjadi di tengah persediaan yang tinggi di bursa Shanghai Futures Exchange (SHFE) dan LME, menunjukkan pasar yang cukup pasokan untuk saat ini.
Dinamika Pasokan dan Proyeksi Pasar 2026
Di sisi pasokan, pasar tembaga global diproyeksikan akan ketat dan berpotensi mengalami defisit hingga 150.000 ton pada tahun 2026. Proyeksi ini terutama disebabkan oleh perkiraan produksi tembaga olahan yang lebih rendah dari ekspektasi awal, akibat berkurangnya pasokan konsentrat tembaga. UBS bahkan menaikkan proyeksi defisit pasarnya menjadi 407.000 ton pada tahun 2026, mengutip penurunan persediaan dan risiko pasokan yang berkelanjutan.
Gangguan produksi di beberapa tambang besar, seperti Grasberg di Indonesia dan Kamoa di Republik Demokratik Kongo, serta tantangan operasional di Chili dan Peru, turut memperkuat kendala pasokan struktural yang diperkirakan berlanjut hingga tahun 2026. Meskipun demikian, produksi tambang tembaga global diproyeksikan tumbuh 2,3% pada 2026, didukung oleh ekspansi kapasitas di Chili, Peru, dan Zambia, serta pemulihan operasional di Grasberg.
Di sisi lain, Goldman Sachs memiliki pandangan yang sedikit berbeda, memproyeksikan harga tembaga global akan tetap berada di kisaran US$ 10.000-US$11.000 per metrik ton pada tahun 2026 dan 2027 karena surplus pasar. Bank investasi tersebut memperkirakan surplus pasokan akan mencegah harga bertahan lama di atas US$11.000 sepanjang tahun ini.
Faktor Pendorong dan Ketidakpastian Kebijakan
Selain dinamika penawaran dan permintaan, harga tembaga juga didorong oleh permintaan yang tinggi dari sektor kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, infrastruktur, manufaktur berbasis teknologi, serta pengembangan jaringan listrik dan pusat data. China sendiri terlihat aktif melakukan penimbunan tembaga dan logam dasar, mengingat krusialnya komoditas ini untuk manufaktur dan strategi ekonomi mereka.
Namun, ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga menjadi sentimen negatif yang perlu diwaspadai. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengumumkan tarif sementara baru sebesar 15% atas impor AS dari seluruh negara, yang dapat memengaruhi dinamika perdagangan global.
Dengan banyak pabrik di China yang diperkirakan baru akan memulai kembali produksi secara penuh pada awal Maret, pasar tembaga masih akan terus mencermati perkembangan permintaan dari negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.