Kelompok militan Hizbullah melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel pada Senin, 2 Maret 2026, sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Serangan ini memicu balasan intensif dari Israel, memperdalam kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah yang telah memanas pasca-serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.
Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan pangkalan militer Israel di dekat Haifa tersebut. Mereka menyatakan tindakan ini merupakan pembalasan atas pembunuhan Khamenei dan pelanggaran berkelanjutan Israel terhadap kedaulatan Lebanon. Serangan roket dan drone ini menandai aksi pertama Hizbullah sejak dimulainya serangan AS dan Israel ke Iran.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei, 86 tahun, dikonfirmasi oleh pemerintah Iran pada 1 Maret 2026, setelah ia tewas dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan situs-situs militer dan pemerintahan di Iran, termasuk kompleks kediaman Khamenei di Teheran. Pemerintah Iran segera mengumumkan 40 hari masa berkabung nasional dan tujuh hari libur nasional sebagai penghormatan.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah akan melancarkan “hukuman yang berat, tegas, dan patut disesalkan” terhadap pihak-pihak yang mereka sebut sebagai pembunuh Khamenei. Pernyataan ini menggarisbawahi tekad Teheran untuk membalas kematian pemimpin spiritual mereka.
Menanggapi serangan Hizbullah, militer Israel segera melancarkan serangan udara balasan. Ledakan hebat dilaporkan mengguncang pinggiran selatan Beirut, yang dikenal sebagai basis kekuatan Hizbullah, serta beberapa wilayah lain di Lebanon. Kepala Staf Umum Israel, Eyal Zamir, menegaskan bahwa Hizbullah “bertanggung jawab penuh atas eskalasi apa pun” yang terjadi.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengonfirmasi kematian Khamenei, menyebutnya sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah.” Sementara itu, serangan AS-Israel di Iran dilaporkan telah menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai sekitar 700 lainnya, termasuk anggota keluarga Khamenei. Sebuah sekolah perempuan di Minab juga disebut menjadi sasaran serangan, dengan puluhan korban jiwa.
Situasi ini telah memicu kekhawatiran global akan meluasnya konflik di Timur Tengah. Sekretaris Jenderal PBB menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Presiden Lebanon Nawaf Salam juga memperingatkan agar negaranya tidak terseret ke dalam perang proksi. Di pasar keuangan global, indeks saham seperti Sensex dan Nifty anjlok tajam akibat lonjakan harga minyak mentah, mencerminkan ketidakpastian ekonomi yang ditimbulkan oleh konflik ini.
Kematian Khamenei juga membuka spekulasi mengenai suksesi kepemimpinan di Iran, sebuah proses yang secara konstitusional berada di tangan Majelis Ahli. Namun, dengan kondisi regional yang sangat tidak stabil, transisi kepemimpinan ini diperkirakan akan menjadi tantangan besar bagi Republik Islam Iran.