House of Tugu Jakarta Sabet Penghargaan ‘World’s Greatest Places 2026’ dari Majalah TIME

house of tugu jakarta, time world's greatest places 2026, kota tua, peranakan, anhar setjadibrata

, sebuah hotel butik yang berlokasi di jantung , Jakarta, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan masuk dalam daftar ‘World’s Greatest Places 2026’ yang dirilis oleh majalah internasional TIME. Pengakuan ini menjadikan House of Tugu sebagai satu-satunya properti dari Indonesia yang terpilih dalam daftar bergengsi tersebut.

Daftar tahunan ‘World’s Greatest Places’ dari TIME menyoroti 100 destinasi luar biasa di seluruh dunia untuk dikunjungi dan menginap, mencakup hotel, kapal pesiar, restoran, atraksi, museum, dan taman. House of Tugu Jakarta diakui atas keunikannya yang memadukan kemewahan dengan kekayaan warisan budaya Indonesia, khususnya warisan .

Menghidupkan Kembali Sejarah Batavia di Kota Tua

Berdiri di kawasan bersejarah Kota Tua, House of Tugu Jakarta bukan sekadar akomodasi mewah, melainkan sebuah “museum hidup” yang merefleksikan masa lalu Batavia yang dinamis. Hotel ini berlokasi strategis di samping kanal Kali Besar yang telah direvitalisasi, dikelilingi oleh arsitektur kolonial Belanda abad ke-18, landmark antik, museum, dan suasana kafe khas Jakarta.

Pembukaan House of Tugu pada Januari 2025, setelah dua dekade proses pengembangan dan restorasi yang cermat, menawarkan sesuatu yang langka di Indonesia: sebuah rumah publik untuk warisan Peranakan. Konsep ini lahir dari keinginan mendalam untuk menghidupkan kembali kisah-kisah Batavia lama—para pedagang, bangsawan, dan komunitas yang berkembang di sepanjang jalanan berbatu dan kanal yang ramai.

Koleksi Antik dan Warisan Budaya yang Mendalam

Hotel ini menampilkan lebih dari 1.000 koleksi pribadi berupa barang antik dan artefak yang dikumpulkan dengan susah payah selama hampir 60 tahun oleh , yang merupakan salah satu pemilik Tugu Hotels & Restaurants Group bersama istri, Wedya Julianti, dan putrinya, Lucienne Anhar. Koleksi ini mengisi 26 kamar tamu dan koridor kompleks delapan bangunan bersejarah tersebut.

Di antara koleksi yang dipamerkan adalah naga Imlek berwarna emas dan merah sepanjang 87 kaki dari tahun 1960-an, serta perahu upacara berkepala harimau yang dibangun pada tahun 1648. Keberadaan koleksi ini sangat penting, mengingat kebijakan asimilasi yang pernah membatasi ekspresi identitas Tionghoa-Indonesia dari tahun 1967 hingga hampir tahun 2000, menyebabkan banyak masyarakat Peranakan Indonesia terputus dari warisan mereka.

Lucienne Anhar menyatakan, “Kami tidak ingin menjadi museum biasa. Kami ingin menceritakan kisah di balik setiap barang ini—dan orang-orang di baliknya.” Tahap selanjutnya akan tiba pada Juni 2026 dengan pembukaan Museum Huang di lokasi, yang akan menampilkan ribuan artefak lainnya dari gudang ke pandangan publik.

Pengalaman Menginap yang Unik dan Personal

House of Tugu Jakarta menawarkan 25 kamar dan suite yang unik, masing-masing dirancang dengan cerita dan gaya yang berbeda. Tidak ada dua kamar yang sama persis, bahkan dalam kategori yang sama. Contohnya, terdapat Oei Tiong Ham Suite yang dikelilingi oleh peninggalan ‘Raja Gula’ Asia, atau Charlie Chaplin Suite yang terinspirasi dari kunjungan legendaris sang komedian ke Jawa pada tahun 1932.

Setiap detail di hotel ini dirancang untuk membawa tamu merasakan perjalanan budaya yang mendalam, dari pencahayaan lembut, barang antik Jawa, warna Peranakan, hingga motif kolonial Belanda. Keramahan staf yang hangat dan personal dengan gaya Jawa yang otentik juga menjadi salah satu daya tarik utama, membuat para tamu merasa seperti di rumah.

Fasilitas yang tersedia meliputi kolam renang luar ruangan, taman, teras, bar, restoran yang menyajikan masakan Indonesia dan Asia (dengan pilihan vegetarian dan halal), serta pusat spa. Lokasinya yang strategis juga memudahkan akses ke berbagai atraksi utama Kota Tua seperti Museum Bank Indonesia dan Museum Wayang.