Pasar ponsel pintar global diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan sebesar 12,9% pada tahun 2026, sebuah kontraksi terbesar yang pernah tercatat dalam lebih dari satu dekade. International Data Corporation (IDC) mengungkapkan bahwa krisis chip memori yang belum pernah terjadi sebelumnya menjadi pemicu utama di balik proyeksi suram ini, dengan pengiriman unit diperkirakan hanya mencapai sekitar 1,1 miliar hingga 1,12 miliar unit, turun dari 1,26 miliar unit pada tahun 2025.
Kekurangan pasokan chip memori, khususnya DRAM dan NAND, disebabkan oleh lonjakan permintaan dari perusahaan teknologi raksasa seperti Meta, Google, dan Microsoft untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Produsen chip memprioritaskan pasokan untuk pusat data berprofit tinggi, mengesampingkan perangkat konsumen seperti ponsel pintar. Situasi ini diperparah dengan perkiraan penurunan pengiriman sebesar 6,8% pada kuartal pertama 2026.
Francisco Jeronimo, Wakil Presiden untuk Worldwide Client Devices di IDC, menggambarkan kondisi ini sebagai “bukan tekanan sementara, tetapi guncangan seperti tsunami yang berasal dari rantai pasokan memori.” Dampak langsung dari krisis ini adalah kenaikan harga jual rata-rata (ASP) ponsel pintar, yang diproyeksikan melonjak 14% menjadi rekor US$523 pada tahun 2026.
Produsen ponsel Android kelas bawah dan perangkat beranggaran rendah akan menjadi pihak yang paling terpukul. Hal ini karena biaya chip memori menyumbang porsi yang lebih besar dalam biaya material (BoM) perangkat mereka. Sebaliknya, merek-merek premium seperti Apple dan Samsung, dengan neraca keuangan yang lebih kuat dan posisi pasar yang mapan, diperkirakan akan mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan pangsa pasar mereka seiring dengan perjuangan atau mundurnya pesaing yang lebih kecil.
Nabila Popal, Direktur Riset Senior di IDC’s Mobile Phone Tracker, menegaskan bahwa “krisis memori akan menyebabkan lebih dari sekadar penurunan sementara; ini menandai reset struktural seluruh pasar.” Ia bahkan menambahkan, “Krisis tarif dan pandemi terasa seperti lelucon dibandingkan dengan ini.” Senada, Ranjit Atwal, Analis Direktur Senior di Gartner, menyatakan bahwa “ini adalah kontraksi pengiriman perangkat paling curam yang disaksikan dalam lebih dari satu dekade.”
Meskipun ada harapan pemulihan, IDC memproyeksikan pertumbuhan yang moderat sebesar 1,9% hingga 2% pada tahun 2027, diikuti oleh rebound yang lebih kuat sebesar 5,2% pada tahun 2028. Namun, pasar diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat pengiriman tahun 2025 bahkan hingga tahun 2030. Krisis ini diperkirakan tidak akan mereda hingga pertengahan 2027. Lebih jauh lagi, harga chip memori tidak diharapkan kembali ke level tahun 2025, menandakan pergeseran permanen menuju ponsel pintar dengan harga yang lebih tinggi. Segmen perangkat di bawah US$100 bahkan bisa menjadi “tidak ekonomis secara permanen.”
Secara regional, Timur Tengah dan Afrika diperkirakan akan menghadapi penurunan paling tajam sebesar 20,6%, sementara Tiongkok diproyeksikan mengalami penurunan 10,5%. Di Indonesia, pasar perangkat secara keseluruhan diperkirakan tumbuh dari USD 12,20 miliar pada 2025 menjadi USD 12,43 miliar pada 2026, dengan CAGR 1,88% hingga 2031, didorong oleh perangkat premium. Ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia mungkin akan melihat akselerasi pergeseran ke perangkat yang lebih mahal atau pasar ponsel bekas yang terus berkembang.
Krisis ini akan memengaruhi ketersediaan dan harga komponen kunci seperti RAM dan penyimpanan internal, yang pada gilirannya akan membatasi pilihan spesifikasi untuk perangkat kelas bawah dan menengah. Produsen mungkin akan mengurangi spesifikasi atau menghilangkan model entry-level yang tidak lagi menguntungkan, mendorong konsumen untuk beralih ke perangkat premium.