IHSG Akhiri Pekan di Zona Merah, Saham MBMA Jadi Pemberat Utama

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

ihsg, merdeka battery materials, mbma, pasar modal, saham

Indeks Harga Gabungan () menutup perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, di zona merah, terkoreksi tipis 0,03% atau setara 2,31 poin. Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini parkir pada level 8.271,77, setelah sepanjang hari bergerak fluktuatif. Penurunan signifikan saham PT Tbk () sebesar 5,52% turut menjadi pemberat utama yang menyeret IHSG.

Pergerakan IHSG pada hari terakhir pekan ini menunjukkan volatilitas tinggi. Indeks sempat dibuka menguat optimistis di level 8.300,22 dan mencapai titik tertinggi harian di 8.328,42. Namun, tekanan jual yang muncul kemudian membalikkan arah pergerakan, mendorong IHSG menyentuh level terendah 8.236,75 sebelum akhirnya ditutup melemah.

Data perdagangan BEI mencatat, sebanyak 381 saham mengalami pelemahan, sementara 267 saham berhasil menguat, dan 171 saham lainnya stagnan. Total nilai transaksi harian mencapai Rp 20,39 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 45,82 miliar saham yang berpindah tangan dalam 2,9 juta kali frekuensi transaksi.

Secara sektoral, mayoritas indeks menunjukkan kinerja negatif. Tujuh dari sebelas indeks sektoral ditutup terkoreksi. Sektor barang konsumen primer mencatat penurunan terdalam hingga 1,53%, diikuti oleh sektor transportasi dan logistik yang melemah 1,06%, serta sektor energi yang terpangkas 1,02%. Sektor properti dan kesehatan juga turut berada di zona merah, masing-masing turun 0,75% dan 0,32%.

Di sisi lain, empat sektor berhasil menguat dan menahan pelemahan IHSG lebih lanjut. Sektor infrastruktur memimpin dengan kenaikan 0,92%, diikuti oleh sektor keuangan yang tumbuh 0,54%, sektor industri naik 0,50%, dan sektor barang konsumen non-primer menguat 0,22%.

Sorotan utama pada perdagangan hari ini adalah saham MBMA yang anjlok 5,52%. Penurunan ini terjadi setelah saham emiten nikel tersebut sempat melonjak lebih dari 15% pada perdagangan Kamis (19/2/2026), mencapai level Rp 905 hingga Rp 945 per saham, didorong oleh minat beli investor asing. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) merupakan pemain kunci dalam rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik, dengan fokus pada nikel dan kobalt melalui proyek High Pressure Acid Leach (HPAL).

Meskipun memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan, terutama dengan target komisioning proyek HPAL pada pertengahan 2026, kinerja keuangan MBMA sempat terkoreksi. Pendapatan belum diaudit selama sembilan bulan pertama 2025 tercatat sebesar US$ 935 juta, turun 32% secara tahunan, sebagian besar disebabkan oleh kontribusi Nickel Pig Iron (NPI) dan High-Grade Nickel Matte (GNM) yang lebih rendah akibat pemeliharaan fasilitas.

Sentimen pasar global juga turut memengaruhi pergerakan IHSG. Indeks-indeks utama di Asia seperti Nikkei, Hang Seng, dan Shanghai terpantau melemah pada hari yang sama. Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75% pada Kamis (19/2/2026), sementara nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat.