Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, dengan koreksi signifikan, ditutup anjlok 1% ke level 8.235. Pelemahan ini turut menyeret sejumlah saham, termasuk PT Indospring Tbk (INDS), PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), yang mengalami penurunan tajam.
Pergerakan pasar yang negatif ini terjadi di tengah bayang-bayang sentimen eksternal dan dinamika internal emiten. Padahal, beberapa analis sebelumnya memprediksi IHSG berpotensi menguat pada hari ini, bahkan ada yang menargetkan level 8.440-8.503. Namun, tekanan jual yang masif di sesi kedua perdagangan membuktikan sebaliknya.
Salah satu pemicu utama anjloknya saham-saham tertentu adalah aksi korporasi yang kurang menguntungkan bagi pemegang saham eksisting. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), misalnya, mengumumkan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue jumbo hingga 50 miliar saham baru. Aksi ini berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan saham hingga maksimum 67,01% bagi investor yang tidak melaksanakan haknya, memicu aksi jual. Sementara itu, saham PT Indospring Tbk (INDS), yang bergerak di sektor komponen otomotif, juga mengalami tekanan jual setelah sebelumnya mencatat reli tajam, mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) oleh investor. Meskipun PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), emiten energi terbarukan, baru saja mendapat sentimen positif dari operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kukusan 2, sahamnya tak luput dari tekanan pasar yang lebih luas, kemungkinan juga akibat aksi ambil untung setelah penguatan sebelumnya.
Dari sisi eksternal, pasar saham Indonesia masih dihantui oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan perdagangan global. Ketegangan di Timur Tengah dan ketidakpastian seputar kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Trump menjadi sentimen negatif yang signifikan. Kekhawatiran akan disrupsi kecerdasan buatan (AI) di tingkat global juga sempat menjadi perhatian, meskipun beberapa laporan menunjukkan kekhawatiran tersebut mulai mereda. Selain itu, kekhawatiran inflasi yang persisten di tingkat global membuat pelaku pasar menunda ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, yang turut menekan pasar.
Di ranah domestik, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Februari 2026, meskipun bertujuan menjaga stabilitas makroekonomi, juga dapat memengaruhi sentimen pasar. Secara teoritis, kenaikan atau bahkan penahanan suku bunga acuan cenderung memiliki pengaruh negatif terhadap pergerakan IHSG karena dapat mengalihkan investor ke instrumen pendapatan tetap yang lebih aman. Aksi jual investor asing dan aliran modal keluar juga menjadi faktor dominan yang sering menekan IHSG, terutama jika ada kekhawatiran terkait peringkat kredit atau transparansi pasar modal Indonesia.
Menyikapi volatilitas ini, analis pasar menyarankan investor untuk lebih berhati-hati dan selektif dalam menempatkan dana. Saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang wajar, terutama di sektor konsumsi defensif atau komoditas emas, dinilai lebih menarik di tengah ketidakpastian. Pasar diperkirakan akan tetap sensitif terhadap sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri, dalam jangka pendek.