Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, dengan koreksi signifikan, melemah 1,04% ke level 8.235,26. Penurunan ini menempatkan IHSG sebagai bursa saham terlemah kedua di kawasan Asia pada hari tersebut, di tengah sentimen negatif yang didominasi oleh kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap produk Indonesia.
Pada penutupan perdagangan, sebanyak 568 saham tercatat terkoreksi, sementara hanya 146 saham yang menguat dan 105 saham stagnan. Total nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp28,14 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 56,52 miliar saham yang berpindah tangan dalam 3,14 juta kali frekuensi transaksi.
Kinerja IHSG ini kontras dengan mayoritas bursa saham di Asia yang justru bergerak menguat. Indeks Nikkei 225 Tokyo, misalnya, sempat menembus level psikologis 59.000 sebelum ditutup naik 0,2%, sementara Kospi Korea Selatan melesat 2,3%. Indeks S&P/ASX 200 Australia juga bertambah 0,5%. Namun, beberapa bursa lain turut melemah, seperti Hang Seng Hong Kong yang turun 1,44% dan Shanghai Composite yang melemah tipis 0,01%, serta Strait Times yang terkoreksi 0,87%.
Sentimen Tarif Impor AS Jadi Biang Kerok
Pelemahan IHSG secara signifikan dipicu oleh sentimen eksternal, terutama rencana kebijakan tarif impor panel surya oleh Amerika Serikat yang berdampak langsung pada Indonesia. Departemen Perdagangan AS berencana mengenakan tarif impor tinggi pada produk sel dan panel surya dari India, Indonesia, dan Laos.
Secara spesifik, AS menetapkan tarif sebesar 104,38% untuk impor produk sel dan panel surya dari Indonesia. Beberapa perusahaan Indonesia juga dikenakan tarif individu yang lebih tinggi, seperti PT Blue Sky Solar dengan tarif 143,3% dan PT REC Solar Energy sebesar 85,99%.
Selain isu panel surya, tekanan terhadap pasar modal Indonesia juga datang dari rencana Perwakilan Perdagangan AS (USTR) untuk membuka penyelidikan Pasal 301 (Section 301). Penyelidikan ini menyasar praktik perdagangan Indonesia di sektor perikanan, terutama terkait kapasitas industri dan subsidi.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyoroti dampak kebijakan ini. “Kekhawatiran akibat tarif memicu koreksi IHSG pada perdagangan Kamis,” ujarnya, seperti dilansir dari Antara.
Seluruh Sektor Memerah, Transportasi Paling Terpukul
Dampak sentimen negatif ini terasa merata di seluruh sektor saham. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham ditutup di zona merah. Sektor transportasi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan terdalam hingga 4,54%. Disusul oleh sektor barang konsumen non-primer yang jatuh 2,59% dan sektor infrastruktur yang terkoreksi 2,41%.
Beberapa saham yang menjadi pemberat utama IHSG dan masuk daftar top losers antara lain INDS yang anjlok 14,95%, SKBM terkoreksi 14,88%, dan ARKO melemah 14,82%. Di sisi lain, di tengah tekanan pasar, beberapa emiten berhasil mencatat penguatan signifikan, seperti MSKY yang terbang 34,62%, JAYA naik 34,57%, dan DIVA melesat 27,61%.