Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, di zona merah, ditutup melemah signifikan sebesar 1,04% ke level 8.235,26. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan jual yang merata di hampir seluruh sektor, dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membebani pasar modal Indonesia.
Sepanjang hari, pergerakan IHSG cukup fluktuatif. Setelah dibuka menguat tipis di level 8.351,36, indeks sempat menyentuh level terendah intraday di 8.139,82 dan tertinggi di 8.358,96. Pada sesi kedua perdagangan, IHSG bahkan sempat anjlok hingga 1,48% ke 8.198,75 pada pukul 14.45 WIB, dan bahkan sempat terjun 2,04% ke level 8.153.
Sentimen Eksternal dan Domestik Menekan Pasar
Pelemahan IHSG hari ini sebagian besar didorong oleh sentimen eksternal, terutama kebijakan tarif impor panel surya yang diterapkan Amerika Serikat (AS) terhadap produk dari beberapa negara, termasuk Indonesia. AS menetapkan tarif sebesar 104,38% untuk impor panel surya dari Indonesia, yang memicu kekhawatiran akan perlambatan perdagangan global.
Selain itu, ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah juga turut mendorong sikap hati-hati pelaku pasar. Kondisi ini menyebabkan investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan beralih ke aset safe haven seperti emas, yang terlihat dari penguatan harga komoditas tersebut.
Dari sisi domestik, pasar juga mencermati risiko nilai tukar rupiah yang bergerak cukup volatil. Kekhawatiran terhadap stabilitas rupiah diperparah dengan pelebaran target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menjadi 2,68% terhadap PDB, naik dari proyeksi awal 2,48%. Pelebaran defisit ini dianggap mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan ketergantungan pada utang baru di tengah suku bunga tinggi.
Aksi Jual Merata di Seluruh Sektor
Data perdagangan menunjukkan bahwa tekanan jual terlihat merata di hampir seluruh sektor. Sebanyak 568 saham tercatat melemah, sementara hanya 146 saham yang menguat dan 105 saham stagnan. Seluruh indeks sektoral ditutup di zona merah, dengan sektor transportasi menjadi yang paling anjlok hingga 4,54%, diikuti sektor barang konsumen non-primer yang turun 2,59%, dan sektor infrastruktur sebesar 2,41%.
Saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) juga tak luput dari tekanan. Saham perbankan seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Mandiri (BMRI) menjadi beban terbesar bagi IHSG. Demikian pula saham-saham komoditas seperti Merdeka Copper Gold (MDKA), Amman Mineral (AMMN), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) turut berkontribusi pada koreksi indeks.
Beberapa saham yang menjadi top losers di antaranya adalah INDS yang anjlok 14,95%, SKBM turun 14,88%, dan ARKO terkoreksi 14,82%. Sementara itu, di tengah pelemahan pasar, beberapa saham berhasil mencatatkan penguatan signifikan, seperti MSKY yang terbang 34,62%, JAYA naik 34,57%, dan DIVA melesat 27,61%.
Menanti Rebalancing MSCI dan Reformasi Pasar Modal
Volatilitas pasar juga diperkirakan akan berlanjut menjelang rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan berlaku efektif setelah penutupan perdagangan Jumat, 27 Februari 2026. Sebelumnya, pada akhir Januari 2026, IHSG sempat anjlok tajam hingga 6,8% setelah MSCI mengumumkan pembekuan sementara perlakuan indeks bagi saham-saham Indonesia, dengan alasan kekhawatiran mengenai transparansi dan free float saham.
Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memaparkan inisiatif reformasi pasar modal kepada MSCI, termasuk kategorisasi data 28 kelompok investor dan target kenaikan free float minimum 15% pada Maret 2026. Analis Ekuitas PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyatakan optimisme bahwa transparansi kepemilikan saham di atas 1% akan memulihkan kepercayaan investor asing.
Kepala Riset MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan IHSG berpeluang mengalami penguatan terbatas pada perdagangan Jumat (27/2/2026), dengan area support di 8.170 dan resistance di 8.299. Namun, ia mengingatkan bahwa pergerakan indeks masih akan dipengaruhi sentimen global yang relatif sama, sehingga penguatan yang terjadi berpotensi terbatas dan tetap diwarnai volatilitas.