IHSG Anjlok 1,04% ke 8.235, Sentimen Tarif Dagang AS dan Rights Issue BUVA Jadi Beban

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

ihsg, tarif dagang as, donald trump, bukit uluwatu villa, geopolitik

Indeks Harga Saham Gabungan () mengakhiri perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, di zona merah dengan pelemahan signifikan. Indeks acuan tersebut ditutup ambles 86,96 poin atau 1,04% ke level 8.235,26. Sepanjang hari, IHSG sempat menyentuh level terendah 8.139, mencerminkan tekanan jual yang kuat di pasar modal domestik.

Pelemahan ini terjadi secara merata di seluruh sektor, di mana 11 indeks sektoral Bursa Efek Indonesia (BEI) kompak terkoreksi. Sektor transportasi mencatatkan penurunan terdalam hingga 4,54%, diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang anjlok 2,59%, dan sektor infrastruktur yang melemah 2,41%. Data RTI Business menunjukkan, sebanyak 568 saham ditutup melemah, sementara hanya 146 saham yang menguat dan 105 saham stagnan. Total nilai transaksi perdagangan mencapai Rp28,14 triliun dengan frekuensi 3,14 juta kali transaksi.

Kekhawatiran Tarif Dagang AS Kembali Menghantui

Salah satu pemicu utama pelemahan IHSG adalah sentimen negatif dari kebijakan tarif dagang Amerika Serikat (AS). Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut penurunan indeks hari ini dipengaruhi kekhawatiran terkait rencana AS menerapkan tarif tinggi untuk produk sel dan panel surya yang diimpor dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. AS dilaporkan menetapkan tarif sebesar 104,38% untuk impor panel surya dari Indonesia.

Meskipun Mahkamah Agung (MA) AS pada Jumat, 20 Februari 2026, telah memutuskan bahwa Presiden tidak memiliki wewenang hukum untuk mengenakan tarif bea masuk berdasarkan undang-undang darurat, Trump tetap menegaskan akan melanjutkan agenda tarifnya. AS sendiri telah memberlakukan tarif impor global 10% dan membuka opsi peningkatan menjadi 15%. Menanggapi hal ini, Menteri Perdagangan Budi Santoso berharap kesepakatan tarif nol persen untuk 1.819 pos tarif produk ekspor Indonesia ke AS yang telah ditandatangani pada 19 Februari 2026 tetap berlaku.

Aksi Korporasi BUVA dan Sentimen Geopolitik

Selain sentimen eksternal, tekanan juga datang dari aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar. Saham PT Tbk (BUVA) menjadi salah satu yang terpukul, anjlok 14,75% ke level Rp1.415. Penurunan BUVA terjadi di tengah rencana perseroan untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Kamis (26/2/2026) ini. RUPSLB tersebut membahas rencana rights issue jumbo sebanyak-banyaknya 50 miliar saham baru, setara 203,11% dari jumlah saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Aksi korporasi ini berpotensi menyebabkan dilusi kepemilikan hingga maksimum 67,01% bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya. Dana hasil rights issue rencananya akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan, pengembangan usaha, dan/atau pembayaran kewajiban.

Sentimen juga turut membebani pasar. Meningkatnya tensi di Timur Tengah, dengan kekhawatiran akan serangan AS terhadap Iran dan rencana latihan angkatan laut Iran bersama Rusia, mendorong sikap hati-hati pelaku pasar. Pelaku pasar juga cenderung wait and see menjelang perundingan Amerika Serikat–Iran di Jenewa yang dijadwalkan pada 26 Februari 2026.

Pelebaran Defisit APBN dan Prospek Pasar

Faktor domestik lainnya yang menjadi sentimen negatif adalah konfirmasi pelebaran target defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menjadi 2,68% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), naik dari proyeksi awal 2,48%. Pasar merespons negatif karena pelebaran defisit ini dianggap mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan ketergantungan pada utang baru di tengah suku bunga tinggi, serta memicu kekhawatiran terhadap stabilitas nilai tukar Rupiah.

Meskipun demikian, beberapa analis memproyeksikan IHSG berpeluang mengalami penguatan terbatas pada perdagangan Jumat (27/2/2026), dengan area support di 8.170 dan resistance di 8.299. Namun, pergerakan indeks diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas seiring sentimen global yang relatif sama.