IHSG Anjlok 1,04% ke 8.235, Sentimen Tarif Dagang AS Pukul Semua Sektor

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

Indeks Harga Saham Gabungan () mengakhiri perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, di zona merah dengan koreksi signifikan. Indeks acuan (BEI) ini tercatat anjlok 1,04% atau turun 86,97 poin, menutup sesi pada level 8.235,26. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif dari rencana Amerika Serikat (AS) yang akan memberlakukan tarif dagang tinggi terhadap produk-produk strategis asal Indonesia.

Menurut data dari Bursa Efek Indonesia, seluruh atau 11 sektor saham yang terdaftar dalam Indeks Sektoral IDX-IC kompak ditutup melemah. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling terpukul, ambles hingga 4,54%. Disusul oleh sektor barang konsumen non-primer yang terkoreksi 2,59%, infrastruktur 2,41%, dan energi 2,13%. Sektor properti juga melemah 2,10%, kesehatan 2,06%, barang baku 1,73%, teknologi 1,46%, barang konsumen primer 1,33%, industri 1,26%, serta keuangan 0,52%.

Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 568 saham tercatat melemah, sementara 146 saham menguat, dan 105 saham stagnan. Nilai transaksi perdagangan saham domestik mencapai Rp28,14 triliun, melibatkan perpindahan tangan 56,53 miliar lembar saham dalam 3,14 juta kali transaksi.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa koreksi IHSG hari ini dipengaruhi oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebijakan proteksionisme AS. Washington secara resmi memberlakukan tarif atas sel dan panel surya yang diimpor dari India, Indonesia, dan Laos. “Kekhawatiran akibat tarif memicu koreksi IHSG pada perdagangan Kamis,” ujar Ratna Lim. AS menetapkan tarif sebesar 104,38% untuk impor produk sel dan panel surya dari Indonesia, dengan beberapa perusahaan seperti PT Blue Sky Solar dikenakan tarif 143,3% dan PT REC Solar Energy 85,99%.

Selain isu panel surya, tekanan terhadap pasar modal Indonesia juga datang dari rencana Perwakilan Perdagangan AS (USTR) untuk membuka penyelidikan Pasal 301 (Section 301). Penyelidikan ini menyasar praktik perdagangan Indonesia di sektor perikanan, terutama terkait kapasitas industri dan subsidi.

Pelemahan IHSG hari ini sejalan dengan mayoritas bursa kawasan Asia lainnya. Indeks Hang Seng turun 1,44%, indeks Shanghai melemah 0,01%, dan Strait Times terkoreksi 0,87%. Hanya indeks Nikkei yang berhasil menguat tipis 0,29%.

Koreksi ini menambah daftar volatilitas yang dialami IHSG di awal tahun 2026. Sebelumnya, pada 28 Januari 2026, IHSG sempat ambruk hingga 6,8% atau 8% ke level 8.369,48 atau 8.261,79. Penurunan tajam kala itu dipicu oleh pengumuman Morgan Stanley Capital International () yang membekukan sementara perlakuan indeks bagi saham-saham Indonesia. MSCI menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan isu free float di pasar modal Indonesia. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyebutkan bahwa terjadi panic selling akibat pembekuan rebalancing oleh MSCI yang berlaku hingga Mei mendatang. Bahkan, MSCI berpotensi menurunkan peringkat BEI dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika perbaikan tidak kunjung dilakukan hingga Mei.