IHSG Anjlok 1,48% ke 8.198, Sentimen Global dan Domestik Menekan Pasar

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

ihsg, pasar saham, bursa efek indonesia, msci, geopolitik

Indeks Harga Saham Gabungan () melanjutkan tren pelemahan signifikan pada sesi kedua perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Indeks acuan (BEI) tersebut anjlok 1,48 persen, mengakhiri perdagangan di level 8.198.

Penurunan ini terjadi setelah IHSG sempat dibuka menguat pada pagi hari. Pada awal perdagangan Kamis, IHSG tercatat naik 29,13 poin atau 0,35 persen ke posisi 8.351,36, sejalan dengan penguatan indeks saham unggulan LQ45 yang naik 0,30 persen ke 845,62. Sentimen positif global, terutama dari bursa saham Amerika Serikat yang menguat solid dua hari berturut-turut setelah laporan kinerja Nvidia kuartal IV-2025 melampaui ekspektasi, sempat menjadi katalis pendorong.

Namun, euforia tersebut tak bertahan lama. Pelemahan drastis pada sesi kedua menunjukkan dominasi sentimen negatif yang membayangi pasar. Sehari sebelumnya, pada Rabu (25/2/2026), IHSG masih ditutup menguat 0,50 persen ke 8.322 poin. Bahkan pada Senin (23/2/2026), indeks sempat menguat 1,5 persen ke level 8.396. Penguatan tersebut ditopang oleh aksi beli investor asing (net foreign buy) sebesar Rp1,18 triliun, dengan fokus pada saham-saham perbankan besar seperti Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Central Asia (BBCA).

Tekanan dari Sentimen Global dan Domestik

Anjloknya IHSG pada hari ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang perundingan Amerika Serikat–Iran di Jenewa yang dijadwalkan pada 26 Februari 2026, yang berpotensi memengaruhi volatilitas aset global. Ketegangan AS-Iran dan kekhawatiran di pasar berjangka AS juga turut membebani sentimen.

Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan akan melanjutkan agenda pemberlakuan tarif global sebesar 10-15 persen, meskipun Mahkamah Agung AS membatalkan tarif resiprokal sebelumnya, menambah ketidakpastian. Konflik di Timur Tengah dan wacana perang dagang baru antara Amerika Serikat dan China juga memicu risk-off sentiment di kalangan investor global, mendorong mereka beralih ke aset yang lebih aman.

Di ranah domestik, isu transparansi kepemilikan saham di Indonesia menjadi sorotan utama. Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, menilai sentimen Morgan Stanley Capital International () menjadi faktor utama yang memberatkan pasar. MSCI resmi memberlakukan perlakuan sementara terhadap Indonesia sejak Januari 2026, membekukan sejumlah perubahan dalam proses rebalancing indeks karena adanya ketidakpercayaan investor global. Maximilianus bahkan memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan perbaikan, investor global akan semakin meninggalkan Indonesia, dan MSCI siap menurunkan Indonesia menjadi Frontier Market.

Faktor lain yang turut menekan adalah kekhawatiran terhadap kondisi fiskal domestik, terutama defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang melebar. Pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi pemberat, di mana pada akhir Februari 2025, rupiah sempat menyentuh level terendah Rp16.575 per dolar AS, mendorong investor asing melepas kepemilikannya di saham Indonesia. Selain itu, aksi profit taking setelah IHSG mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas 8.200 pada Januari 2026, juga menjadi pemicu koreksi.

Proyeksi dan Rekomendasi Analis

Analis BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa IHSG saat ini berada dalam area uji support di kisaran 8.230-8.150. Selama indeks mampu bertahan di atas zona tersebut, pergerakan cenderung terbatas namun tetap stabil, dengan resistance terdekat di level 8.430.

Meskipun demikian, beberapa analis sebelumnya memproyeksikan IHSG dapat menembus 8.500 di akhir 2025 dan 9.300 pada 2026, dengan asumsi penurunan suku bunga dua kali, inflasi terkendali di kisaran tiga persen, serta stabilitas rupiah. Namun, volatilitas global dan risiko eksternal tetap harus diwaspadai, terutama karena dapat mengganggu arus modal asing.