Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup sesi pertama perdagangan Senin, 2 Maret 2026, dengan koreksi signifikan. Indeks acuan tersebut anjlok 1,60 persen atau 131,767 poin, parkir di level 8.103,718. Pelemahan ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar global. Namun, di sisi lain, saham-saham emiten minyak dan gas (migas) justru mencatatkan lonjakan harga yang impresif.
Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG sempat dibuka melemah 1,73 persen ke posisi 8.092,90. Sepanjang sesi, indeks bergerak fluktuatif, menyentuh level tertinggi 8.133,692 dan terendah 8.039,508. Aktivitas transaksi terpantau ramai dengan volume perdagangan mencapai 33,272 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 16,614 triliun, melibatkan 2.184.734 kali frekuensi transaksi. Kapitalisasi pasar BEI juga turut tergerus, menyentuh angka sekitar Rp 14.549 triliun.
Mayoritas saham di bursa mengalami tekanan jual, dengan 645 saham melemah, sementara hanya 110 saham yang menguat, dan 62 saham stagnan. Indeks LQ45, yang berisi 45 saham unggulan, juga terkoreksi 1,52 persen ke posisi 821,71. Hampir seluruh sektor perdagangan berada di zona merah, kecuali sektor energi yang menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan penguatan, naik 1,60 persen.
Saham Migas Melesat di Tengah Gejolak
Kontras dengan pelemahan IHSG, saham-saham emiten migas justru menjadi primadona investor. Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik di Timur Tengah menjadi pendorong utama kenaikan ini. Beberapa emiten yang mencatatkan penguatan signifikan antara lain:
- PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX): Melonjak 21,15% ke Rp252 per saham.
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Menguat 14,2% ke Rp2.010 per saham.
- PT Elnusa Tbk (ELSA): Naik 7,64% ke Rp915 per saham.
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC): Menguat 5,79% ke Rp1.825 per saham.
- PT Rukun Raharja Tbk (RAJA): Menguat 5,55% ke Rp4.750 per saham.
- PT AKR Corporindo Tbk (AKRA): Menguat 2,71% ke Rp1.330 per saham.
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak
Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menjadi sentimen negatif utama yang menekan pasar saham global, termasuk Indonesia. Serangan udara Israel yang didukung AS ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), diikuti serangan balasan drone dari Iran, memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak global. Terlebih, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, yang semakin memperparah kekhawatiran.
Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Harga minyak mentah Brent sempat menembus US$ 78,2 per barel, naik sekitar 12 persen dari penutupan sebelumnya. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga naik menjadi sekitar US$ 71,9 per barel. Beberapa analis bahkan memproyeksikan harga minyak berpotensi kembali menyentuh US$ 100 per barel, yang dapat memicu inflasi di kemudian hari.
Imbauan Otoritas dan Pandangan Analis
Menyikapi ketidakpastian yang meningkat, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengimbau investor untuk tetap tenang dan rasional dalam mengambil keputusan investasi. Jeffrey menjelaskan bahwa gejolak pasar dalam situasi seperti ini umumnya dipicu oleh sentimen jangka pendek dan pergeseran persepsi risiko, sehingga fluktuasi harga tidak selalu mencerminkan kondisi fundamental perusahaan sebenarnya.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menegaskan bahwa tekanan pasar dipicu oleh eskalasi konflik Iran dan Israel yang turut menyeret Amerika Serikat. Sementara itu, Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menilai konflik ini mendukung peningkatan premi harga emas serta valuasi saham perusahaan minyak, mengingat jalur logistik minyak dan gas global di Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran. Namun, pengamat pasar modal Hans Kwee mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak tidak menguntungkan bagi negara net importir minyak seperti Indonesia.