IHSG Anjlok 1,81 Persen ke 7.228, Sentimen Global dan Saham Big Caps Jadi Pemberat

ihsg, bursa efek indonesia, pasar modal, geopolitik, saham big caps

Indeks Harga Saham Gabungan () (BEI) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan sesi pertama Jumat, 13 Maret 2026. Indeks acuan tersebut amblas 1,81 persen, menutup sesi di level 7.228. Pelemahan ini bahkan sempat membawa IHSG melorot lebih dari 2 persen, menyentuh level terendah 7.188 di awal perdagangan.

Pergerakan IHSG menunjukkan tren negatif sejak pembukaan, dengan tekanan jual yang mendominasi pasar. Data dari Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi mencapai Rp7,4 triliun sepanjang sesi pertama, dengan total 16,72 miliar saham berpindah tangan. Dari jumlah tersebut, hanya 128 saham yang berhasil menguat, sementara 595 saham melemah, dan 89 saham lainnya stagnan.

Faktor Pemicu Pelemahan Pasar

Anjloknya IHSG pada hari ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari pasar global dan domestik. Secara sektoral, saham-saham di sektor transportasi, perindustrian, dan konsumen non-primer menjadi penekan utama, masing-masing ambles 3,04 persen, 2,98 persen, dan 2,78 persen. Sektor infrastruktur juga turut menyumbang pelemahan dengan penurunan 2,75 persen.

Beberapa saham berkapitalisasi besar (big caps) turut menjadi pemberat signifikan bagi pergerakan indeks. Saham Amman Mineral Internasional (AMMN) mengurangi 12,93 poin, disusul Bank Mandiri (BMRI) dengan 10,9 poin, dan Barito Renewables Energy (BREN) yang memangkas 7,42 poin. Selain itu, Telkom Indonesia (TLKM) mengurangi 6,33 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 6,31 poin, Astra International (ASII) 6,16 poin, Bayan Resources (BYAN) 5,6 poin, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) 4,88 poin, dan Merdeka Copper Gold (MDKA) 3,95 poin. Emiten Prajogo Pangestu, termasuk BREN dan PTRO, juga tercatat terpuruk sepanjang tahun berjalan dan menjadi pemberat IHSG.

Sentimen Global dan Domestik

Ketegangan yang memanas di Timur Tengah menjadi salah satu faktor eksternal utama yang memicu volatilitas pasar keuangan global. Konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, serta ancaman serangan terhadap kapal tanker minyak di Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi global dan potensi kenaikan inflasi. Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia, yang sempat menembus level psikologis US$100 per barel, bahkan mencapai US$104 untuk Brent dan US$114 untuk minyak mentah Amerika Serikat pada 9 Maret 2026. Bursa saham Amerika Serikat seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq juga ditutup melemah pada perdagangan Kamis (12/3).

Dari sisi domestik, aksi jual oleh investor asing turut menekan IHSG. Tercatat, investor asing melakukan net sell sebesar Rp730 miliar pada 12 Maret 2026, dan secara kumulatif mencapai Rp7,29 triliun sepanjang tahun 2026 hingga 8 Maret. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang sempat menyentuh Rp17.009 per dolar AS pada 9 Maret 2026, juga menambah sentimen negatif. Kekhawatiran pasar terkait potensi perubahan bobot Indonesia dalam indeks global seperti MSCI Emerging Markets Index, yang sempat menyebabkan IHSG anjlok 6,8 persen pada 28 Januari 2026, masih membayangi. Selain itu, mendekati libur panjang Lebaran, pelaku pasar cenderung mengadopsi strategi perdagangan jangka pendek dan menahan ekspansi risiko.

Proyeksi dan Rekomendasi Analis

Analis memperkirakan pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih berada di area rawan koreksi dan berpotensi menguji level support 7.139-7.200. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menyebut tekanan pada pasar saham disebabkan oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Jika indeks mampu bertahan di level tersebut, ada kemungkinan terjadi technical rebound, namun jika menembus ke bawah, potensi penurunan lebih lanjut masih terbuka.

Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham, dengan memprioritaskan emiten yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Saham-saham perbankan besar, telekomunikasi, serta beberapa emiten berbasis teknologi dinilai berpotensi menjadi penopang pergerakan indeks karena karakteristiknya yang relatif defensif. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 bervariasi antara 5,0 persen hingga 5,2 persen dari berbagai lembaga seperti IMF, PIER, INDEF, dan Bank Dunia, namun tetap diwarnai risiko eksternal seperti ketegangan perdagangan dan volatilitas pasar keuangan global.