Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3/2026), dengan pelemahan signifikan. Sentimen negatif global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi pemicu utama koreksi pasar modal domestik, mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman.
Pada pukul 09:10 WIB, IHSG tercatat kehilangan 142,58 poin atau setara 1,73%, berada di level 8.092. Bahkan, satu menit setelah pembukaan, indeks sempat merosot lebih dari 2%. Data perdagangan Bursa Efek Indonesia menunjukkan volume transaksi mencapai 8,47 miliar saham dengan nilai Rp5,16 triliun, melibatkan 617.156 kali frekuensi. Mayoritas saham, yakni 627 emiten, mengalami pelemahan, sementara hanya 69 saham yang menguat dan 39 lainnya stagnan.
Pelemahan IHSG ini tidak terlepas dari memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Laporan terbaru mengindikasikan serangan udara dan laut yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan rentetan serangan rudal oleh Teheran. Situasi semakin rumit dengan kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, meskipun informasi ini belum terkonfirmasi secara independen. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa operasi tempur di Iran akan terus berlanjut setelah tiga personel militer AS dilaporkan tewas.
Eskalasi ini berdampak langsung pada pasar komoditas global. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam, dengan Brent Crude sempat menembus level psikologis di atas US$80 per barel dan mencapai puncaknya di US$82,37 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat menjadi US$72,38 per barel. Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak global menyusul laporan penutupan akses Selat Hormuz oleh otoritas Iran, jalur vital yang dilewati sekitar 20-25 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Selain itu, insiden kerusakan pada tiga kapal tanker di lepas pantai Teluk dan tewasnya seorang awak kapal semakin menambah risiko bagi pelayaran komersial di kawasan tersebut.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memproyeksikan IHSG akan bergerak variatif dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan pertama Maret 2026. Ia menyebutkan, indeks berpotensi bergerak dalam rentang support di 8.031 dan resistance di 8.437. Menurut Imam, pasar saat ini diselimuti kehati-hatian tingkat tinggi akibat kombinasi memuncaknya tensi geopolitik global, perubahan kebijakan dagang Amerika Serikat, serta peringatan terkait kesehatan fiskal Indonesia.
Senada, Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, menilai konflik yang terjadi saat ini mendukung peningkatan premi harga emas serta valuasi saham perusahaan minyak. Hal ini karena jalur logistik minyak dan gas global yang krusial di Selat Hormuz berada di bawah kendali pemerintahan Iran, yang berpotensi menyebabkan kenaikan tajam tarif Very Large Crude Carrier (VLCC). Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menambahkan bahwa serangan AS-Israel ke Iran akan menjadi tema utama pasar di awal pekan perdagangan Maret 2026, dan kenaikan harga minyak tidak menguntungkan bagi negara net importir minyak seperti Indonesia.
Meskipun IHSG tertekan, BRI Danareksa Sekuritas berpendapat bahwa tekanan tersebut berpotensi relatif tertahan. Hal ini mengingat komposisi indeks yang cukup banyak dihuni saham berbasis komoditas yang diuntungkan dari kenaikan harga energi dan emas. Sementara itu, investor asing menunjukkan minat beli bersih (net buy) sebesar Rp4,9 triliun di seluruh pasar pada periode 23–27 Februari 2026, dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling banyak diborong. Namun, secara keseluruhan, Indonesia masih mengalami outflow sekitar Rp11,23 triliun sejak pengumuman MSCI pada 28 Januari 2026. Tiga emiten perbankan terbesar, BBRI, BMRI, dan BBCA, serta saham milik taipan Prajogo Pangestu seperti BREN, BRPT, dan TPIA, tercatat menjadi beban utama pelemahan IHSG.