Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan awal pekan ini, Senin (2/3/2026), dengan penurunan tajam. Indeks dibuka melemah 1,73 persen ke posisi 8.092,90. Bahkan, IHSG sempat ambles hampir 2 persen ke level 8.073,09 dan menyentuh titik terendah 8.049,38 pada awal sesi perdagangan. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Gejolak Geopolitik dan Dampaknya
Ketegangan di Timur Tengah meningkat signifikan setelah AS dan Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Teheran, ibu kota Iran, pada Sabtu (28/2/2026). Iran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk. Situasi semakin memanas dengan adanya laporan mengenai tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang dikhawatirkan memicu perang terbuka yang lebih luas.
Eskalasi konflik ini segera memicu pola risk-off di pasar global, mendorong investor untuk beralih dari aset berisiko ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pun tak luput dari tekanan. Pada Senin pagi, rupiah melorot 45 poin atau 0,27 persen ke level Rp 16.832 per dolar AS, setelah dibuka pada Rp 16.830 per dolar AS. Analis bahkan memperkirakan rupiah berpotensi menuju level Rp 17.000 per dolar AS dalam sepekan ke depan jika ketegangan terus berlanjut.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia melonjak tajam. Minyak mentah Brent sempat menembus level psikologis di atas US$80 per barel, bahkan mencapai US$82,37 per barel, dengan kenaikan lebih dari 8 persen pada perdagangan Senin. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran serius akan gangguan pasokan dari Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20-25 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global setiap hari.
Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia
Bagi Indonesia, eskalasi konflik ini membawa sejumlah risiko ekonomi. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan biaya impor energi dan berpotensi mendorong inflasi domestik. Jika pemerintah memutuskan untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan membengkak.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bahkan mengingatkan adanya dampak serius dari konflik global terhadap perekonomian dan keamanan Indonesia. “Konflik ini mau tidak mau akan berdampak pada situasi di dalam negeri. Implikasinya tentu akan terasa pada masalah ekonomi kita,” ujar Listyo Sigit.
Proyeksi dan Rekomendasi Analis
Analis pasar modal memproyeksikan IHSG akan bergerak volatil dengan kecenderungan konsolidasi di tengah ketidakpastian global. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, memperkirakan IHSG akan bergerak dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437. Senada, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG akan bergerak variatif cenderung melemah dengan kisaran support 7.945-8.090 dan resistance 8.380-8.525.
Meskipun demikian, sektor-sektor berbasis komoditas, terutama energi dan pertambangan, berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan emas. Analis menyarankan investor untuk mengambil posisi selektif dan defensif, fokus pada emiten dengan fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Saham-saham seperti MEDC, ELSA, dan MDKA direkomendasikan oleh BRI Danareksa Sekuritas untuk perdagangan hari ini.
Di tengah sentimen negatif geopolitik, pasar modal Indonesia juga masih mencermati upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam mereformasi pasar modal, termasuk perbaikan transparansi data untuk memenuhi standar MSCI yang ditargetkan rampung sebelum Maret 2026. Dominasi investor ritel juga membuat pasar lebih sensitif terhadap sentimen jangka pendek.