IHSG Anjlok Lebih dari 2 Persen, Sentimen Global dan Aksi Jual Tekan Pasar Saham

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

Indeks Harga Gabungan (IIHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami koreksi tajam pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, dengan anjlok lebih dari 2 persen hingga mencapai level 8.153 pada sesi kedua perdagangan. Penurunan signifikan ini menandai berakhirnya tren penguatan yang sempat terjadi di awal pekan.

Pergerakan pada hari ini menunjukkan volatilitas yang tinggi. Setelah dibuka menguat 0,35 persen atau 29,13 poin ke posisi 8.351,36 di pagi hari, indeks komposit ini tak mampu mempertahankan momentum positifnya. Memasuki penutupan sesi pertama, IHSG sudah melemah 0,81 persen atau turun 67,044 basis poin ke level 8.255,185. Tekanan jual terus berlanjut hingga sesi kedua, menyeret IHSG ke zona merah yang lebih dalam.

Data perdagangan menunjukkan dominasi sentimen negatif di pasar. Sebanyak 642 saham tercatat anjlok, sementara 196 saham harganya tidak berubah, dan hanya 124 saham yang berhasil menguat. Total volume perdagangan saham mencapai 36,06 miliar lembar dengan frekuensi transaksi 2,42 juta kali, senilai Rp20,44 triliun saat indeks ambruk 2 persen. Nilai transaksi di seluruh pasar bahkan mencapai Rp22,11 triliun pada pukul 14.45 WIB.

Kombinasi Sentimen Eksternal dan Aksi Ambil Untung

Anjloknya IHSG dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal dan aksi ambil untung (profit taking) investor setelah indeks sempat reli dalam beberapa hari terakhir. Ketidakpastian ekonomi global dan perkembangan geopolitik masih menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Salah satu sentimen eksternal yang disoroti adalah pidato kenegaraan Presiden Amerika Serikat (AS) pada Rabu pagi waktu Indonesia, yang membahas agenda tarif. AS telah menerapkan tarif global sementara sebesar 10 persen dan berpotensi menaikkannya menjadi 15 persen, menciptakan ketidakpastian di pasar global.

Saham Big Caps dan Sektor Transportasi Jadi Pemberat

Di pasar domestik, tekanan terbesar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar (big caps) yang memiliki bobot signifikan terhadap indeks, khususnya dari sektor perbankan dan komoditas. Beberapa saham yang menjadi pemberat utama IHSG antara lain Bank Central Asia (BBCA) yang turun 1,74 persen, Merdeka Copper Gold (MDKA) yang terkoreksi lebih dari 7 persen, serta Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI). Selain itu, saham-saham seperti Trimegah Bangun Persada (NCKL), XLSmart (EXCL), dan Adaro Minerals Indonesia (ADMR) juga turut melemah.

Pelemahan juga terjadi secara merata di berbagai sektor. Pada sesi kedua, sektor transportasi mencatat penurunan terdalam hingga 3,90 persen, diikuti oleh sektor siklikal yang melemah 3,19 persen, dan sektor infrastruktur yang terkoreksi 2,63 persen. Sektor energi, barang baku, dan kesehatan juga mengalami tekanan signifikan.

Kontras dengan Bursa Global dan Rupiah yang Menguat

Menariknya, pelemahan IHSG ini terjadi di tengah sentimen positif dari bursa global dan regional sebelumnya. Bursa Wall Street di AS ditutup menguat pada Rabu (25/2), dipimpin oleh saham-saham teknologi seperti Nvidia, sementara pasar saham Asia juga menunjukkan penguatan, dengan indeks Nikkei 225 Jepang mencetak rekor baru. Nilai tukar rupiah juga terpantau menguat ke level Rp16.720 per Dolar AS, yang seharusnya menjadi katalis positif bagi masuknya dana asing.

Analis FAC Sekuritas memperkirakan IHSG cenderung bergerak mixed merespons beragam katalis dari berbagai regional. Sementara itu, Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengingatkan investor untuk berhati-hati terhadap potensi koreksi lanjutan jika IHSG tidak mampu menembus level 8.450.

Di sisi lain, kebijakan Otoritas Jasa Keuangan () yang menaikkan porsi free float saham minimum menjadi 15 persen dari sebelumnya 7,5 persen, diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan kualitas emiten di BEI. Namun, dampak kebijakan ini terhadap pergerakan harian IHSG masih perlu dicermati lebih lanjut di tengah sentimen pasar yang sensitif.