Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memulai perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, dengan optimisme, dibuka di zona hijau. Namun, penguatan tersebut tak bertahan lama, sebab indeks segera berbalik arah dan bergerak di teritori negatif pada sesi pagi.
Pada pukul 09.00 WIB, IHSG sempat menguat 29,13 poin atau 0,35% ke level 8.351,36. Akan tetapi, hanya dalam waktu 30 menit, tepatnya pukul 09.30 WIB, indeks merosot 21,6 poin atau 0,3% ke posisi 8.300. Bahkan, dalam sejam perdagangan, IHSG tercatat terjungkal sebesar 33,96 poin (0,41%) ke level 8.288,25. Pergerakan indeks menunjukkan volatilitas dengan rentang 8.278 hingga 8.399. Hingga pukul 11.12 WIB, IHSG berada di level 8.259,54, turun 62,69 poin atau 0,75% dari penutupan sebelumnya.
Aktivitas perdagangan pada sesi pagi cukup ramai, dengan 14,72 miliar lembar saham diperdagangkan senilai Rp 8,39 triliun, melalui 948.341 kali transaksi. Data lain menunjukkan volume perdagangan mencapai 2,58 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp1,36 triliun pada pukul 09.05 WIB. Sebanyak 243 saham mengalami kenaikan, sementara 358 saham menurun, dan 209 saham stagnan.
Pergerakan IHSG hari ini dipengaruhi oleh sentimen global yang beragam. Di Amerika Serikat, bursa Wall Street menunjukkan reli positif, terutama didorong oleh performa solid saham-saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) setelah laporan kinerja Nvidia yang melampaui ekspektasi. Indeks Nasdaq bahkan melonjak lebih dari 1%. Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang terus mencetak rekor baru, memberikan optimisme bagi investor di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, di tengah sentimen positif global, pasar domestik masih dibayangi oleh sejumlah faktor. Penguatan nilai tukar Rupiah yang berada di level Rp16.720 per Dolar AS sempat memberikan katalis positif bagi masuknya aliran dana asing. Meskipun demikian, para analis mengingatkan investor untuk tetap mencermati potensi volatilitas akibat pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump yang membahas kebijakan tarif. Ketegangan geopolitik AS-Iran juga menjadi salah satu sentimen yang membayangi pasar.
Selain itu, pasar juga masih mencermati sepinya aksi korporasi penawaran umum perdana (IPO) dan akumulasi penjualan bersih (net sell) investor asing sepanjang tahun 2026 berjalan. Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang sempat membekukan perubahan indeks saham Indonesia pada awal Februari lalu juga masih menyisakan kekhawatiran terkait transparansi data free float saham, yang berpotensi menekan nilai tukar Rupiah hingga menguji level Rp 17.000 per dolar AS jika tekanan jual asing berlanjut.
Analis dari Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) memproyeksikan IHSG akan bergerak bervariasi cenderung menguat di area konsolidasi 8.250-8.350. Sementara itu, analis lain menilai risiko koreksi masih terbuka selama IHSG belum mampu menembus level 8.450. Sektor teknologi disebut-sebut mendukung penguatan IHSG, sementara saham-saham energi sempat tertekan pada sesi pagi.