Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menghadapi tekanan signifikan pada Maret 2026 menyusul memanasnya konflik di Timur Tengah. Serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serta respons balasan dari Teheran, memicu sentimen risk-off di pasar global dan domestik.
Eskalasi konflik mencapai puncaknya pada Sabtu (28/2/2026), ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Iran, Teheran, menargetkan kompleks militer dan fasilitas yang diduga terkait program rudal dan nuklir. Laporan menyebutkan lebih dari 200 warga Iran tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Situasi semakin tegang dengan adanya indikasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian dikonfirmasi oleh media setempat. Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara di kawasan Teluk yang menjadi basis pasukan AS atau sekutunya, termasuk Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Yordania, dan Irak.
Volatilitas IHSG dan Proyeksi Analis
Para analis pasar modal secara seragam memperingatkan potensi koreksi dan peningkatan volatilitas pada IHSG. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa konflik AS-Israel dan Iran akan memicu volatilitas bagi IHSG, dengan kemungkinan koreksi wajar dan fase konsolidasi bearish dalam jangka pendek. Senada, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan IHSG akan bergerak variatif dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan pertama Maret 2026.
Secara historis, IHSG rata-rata melemah 1,97% pada bulan Maret dalam sembilan tahun terakhir, dengan probabilitas penguatan hanya 44%. Pada akhir perdagangan Februari (Jumat, 27/2/2026), IHSG ditutup stagnan di level 8.235,48. Sepanjang tahun 2026 berjalan, IHSG sudah terkoreksi 4,76% dengan net sell mencapai Rp 9,51 triliun.
Beberapa analis memberikan proyeksi level support dan resistance untuk IHSG. Senior Technical Analyst Sucor Sekuritas Reyhan Pratama menyebut level support di 8.025, 7.861, hingga 7.500 jika terjadi penurunan. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG rawan terkoreksi dengan support 8.187 dan resistance 8.281. Sementara itu, Founder Republik Investor Hendra Wardana memproyeksikan IHSG akan menguji support klasik di level 8.133, dengan area psikologis 8.000 sebagai support berikutnya jika level tersebut jebol.
Lonjakan Harga Minyak dan Dampak Ekonomi
Dampak paling terasa dari eskalasi konflik ini adalah lonjakan harga minyak mentah global. Kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 20 persen suplai minyak dunia, dan Selat Hormuz menjadi titik kritis yang menangani hampir 20 juta barel minyak per hari. Gangguan pada jalur ini berpotensi menyebabkan harga minyak global melonjak lebih tinggi.
Pada Senin (2/3/2026), harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 8% ke level US$ 78,34 per barel, setelah sempat menyentuh US$ 82,37 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak 7,43% ke US$ 72 per barel. Analis memperkirakan harga minyak dapat dengan cepat mendekati US$ 100 per barel pada minggu pertama Maret dan bahkan melampaui level tersebut jika ketegangan terus berlanjut dan mengganggu Selat Hormuz.
Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga ini tidak menguntungkan. Hal ini berisiko menekan nilai tukar rupiah, memicu inflasi impor, dan meningkatkan beban utang luar negeri. Pelemahan rupiah bahkan bisa mencapai Rp 17.000 per dolar AS. Kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan beban subsidi BBM dan listrik, yang berpotensi memaksa pemerintah merealokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial. Sebelumnya, S&P Global Ratings juga telah memperingatkan peningkatan tekanan fiskal Indonesia, khususnya biaya pembayaran utang yang lebih tinggi.
Strategi Investor di Tengah Ketidakpastian
Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, investor global cenderung beralih ke aset aman (safe haven) seperti emas. Namun, koreksi pasar juga membuka peluang akumulasi saham-saham yang mengalami diskon harga, terutama di sektor energi dan logam yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global. Analis menyarankan investor untuk fokus pada emiten dengan fundamental solid dan valuasi menarik, serta mencermati emiten-emiten terkait dengan energi dan emas.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi penting dari AS pada pekan ini, termasuk indeks ISM Manufacturing, ISM non-manufacturing, ADP Employment change, Nonfarm payrolls, unemployment rate, dan Retail sales, yang akan turut memengaruhi sentimen pasar global.