IHSG Dibayangi Konflik Global, Analis Rilis Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini

ihsg, rekomendasi saham, mnc sekuritas, phintraco sekuritas, konflik timur tengah

Indeks Harga Saham Gabungan () pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, diproyeksikan akan bergerak dalam rentang yang bergejolak, dibayangi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Sejumlah analis pasar modal telah merilis saham-saham pilihan yang dapat dicermati investor di tengah ketidakpastian ini, dengan fokus pada pendekatan teknikal dan strategi buy on weakness.

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), IHSG tercatat menguat tipis 0,00 persen ke level 8.235,49. Namun, sentimen negatif dari ketidakpastian tarif dari Amerika Serikat, peringatan mengenai meningkatnya tekanan fiskal di Indonesia dari S&P Global Ratings, serta rebalancing MSCI pada akhir bulan sebelumnya telah membayangi pergerakan indeks.

Proyeksi IHSG di Tengah Tekanan Global

Head of Research Retail , Herditya Wicaksana, menyampaikan bahwa secara teknikal, IHSG masih memiliki peluang penguatan dalam jangka pendek. “Selama IHSG mampu bertahan di atas area 8.150 hingga 8.230, peluang rebound masih terbuka dengan target penguatan menuju 8.440 sampai 8.650,” ujar Herditya dalam riset hariannya.

Senada, PT Pilarmas Investindo Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi melemah dengan level support dan resistance di kisaran 8.150-8.330. Sementara itu, memperkirakan IHSG akan bergerak pada kisaran 8.100-8.350 pada perdagangan hari ini.

Namun, risiko tekanan terhadap IHSG juga datang dari memanasnya konflik di Timur Tengah. Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengingatkan bahwa agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran memicu aksi jual terhadap aset berisiko atau risk-off dan beralih ke aset safe haven. “Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” jelas Hendra.

Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, menambahkan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik ini tidak menguntungkan bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, juga memproyeksikan IHSG akan bergejolak dengan kecenderungan konsolidasi, dengan support di 8.031 dan resistance di 8.437, dipicu oleh meningkatnya risiko geopolitik.

Rekomendasi Saham Pilihan Analis

Di tengah kondisi pasar yang dinamis, sejumlah sekuritas telah merilis pilihan untuk perdagangan hari ini:

MNC Sekuritas

  • PT Indika Energy Tbk (INDY): Direkomendasikan Buy on Weakness pada rentang 3.630-3.700, dengan target harga 3.820 dan 3.900, serta stop loss di bawah 3.550. INDY sebelumnya menguat 4,26 persen ke 3.670.
  • PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG): Direkomendasikan Buy on Weakness di kisaran 7.900-8.050, dengan target 8.400 dan 8.650, serta stop loss di bawah 7.700. TAPG menguat 8,33 persen ke 1.625.
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM): Direkomendasikan Buy on Weakness di 3.350-3.420, dengan target 3.550 dan 3.620, serta stop loss di bawah 3.300. TLKM terkoreksi 3,01 persen ke 3.540.
  • PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR): Direkomendasikan akumulasi pada rentang 2.750-2.820, dengan target 2.950 dan 3.050, serta stop loss di bawah 2.700.

Phintraco Sekuritas

Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk trading, antara lain HRUM, NCKL, SMDR, AMMN, ERAA, dan MAIN.

Indo Premier Sekuritas (IPOT)

Indo Premier Sekuritas menyarankan investor untuk mencermati saham berbasis komoditas, khususnya sektor minyak seperti MEDC, ANTM, ARCI, HRTA, ITMG, dan SOCI. Selain itu, sektor energi (MEDC, ELSA, ENRG, AKRA) dan logam mulia (ANTM, MDKA) juga berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas akibat konflik geopolitik.

Faktor Makroekonomi dan Prospek Jangka Panjang

Pelaku pasar juga menantikan rilis data cadangan devisa periode Februari 2026 pada Jumat, 6 Maret 2026. Data ekonomi domestik penting lainnya yang akan dirilis pekan ini meliputi S&P Global Manufacturing PMI, neraca perdagangan Januari 2026, dan inflasi Februari 2026.

Pada Januari 2026, inflasi tahunan Indonesia mengalami akselerasi menjadi 3,55%, melampaui batas atas target Bank Indonesia (1,5%-3,5%). Di sisi lain, PMI Manufaktur Indonesia pada Januari 2026 tercatat naik ke level 53.8, melanjutkan tren ekspansi selama lima bulan berturut-turut, yang dapat memberikan sentimen positif.

Untuk prospek jangka panjang, HSBC menempatkan Indonesia di kategori Overweight dengan potensi kenaikan indeks sebesar 12,9% pada 2026, menargetkan IHSG mencapai level 9.450 pada akhir tahun. Valuasi saham Indonesia, terutama big cap yang belum banyak bergerak pada 2025, dinilai masih menarik dan berpotensi didukung aliran dana asing pada 2026. Sektor keuangan, konsumsi, teknologi, serta komoditas seperti batu bara, nikel, timah, dan emas diperkirakan menjadi penerima manfaat utama.