Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan akhir pekan ini, Jumat (27/2/2026), dengan performa yang kurang menggembirakan. Pada pukul 09.08 WIB, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut terpantau melemah signifikan, kehilangan 104,83 poin atau setara 1,27%, sehingga parkir di level 8.130.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang telah terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (26/2/2026), IHSG juga ditutup di zona merah, terkoreksi 1,04% atau 86,965 poin ke level 8.235,262. Bahkan pada sesi I hari Kamis, indeks sempat melemah 0,81%.
Sentimen Global dan Tekanan Sektor Teknologi
Tekanan terhadap IHSG pada pembukaan hari ini sebagian besar dipicu oleh sentimen negatif dari pasar global dan regional. Bursa saham Asia pagi ini dibuka bervariasi cenderung melemah, menyusul koreksi yang terjadi di Wall Street. Saham-saham di sektor teknologi menjadi salah satu penekan utama di kawasan Asia, terutama setelah kejatuhan saham Nvidia. Beberapa emiten teknologi besar di Asia, seperti SK Hynix, Samsung Electronics, dan SoftBank Group, turut mencatat pelemahan pada perdagangan awal.
Selain itu, kekhawatiran geopolitik dan ketidakpastian seputar kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) juga masih membayangi pasar. Peningkatan jumlah pasukan AS di Timur Tengah dan sanksi yang dijatuhkan Washington terhadap entitas yang terlibat dalam ekspor minyak dan senjata Iran disebut-sebut turut memicu kewaspadaan pelaku pasar.
Faktor Domestik dan Kinerja Sektoral
Di dalam negeri, beberapa faktor juga berkontribusi pada pelemahan IHSG. Pada perdagangan Kamis (26/2/2026), sektor transportasi, konsumen non primer, barang baku, dan infrastruktur menjadi pemicu utama pelemahan indeks. Saham-saham seperti PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Petrosea Tbk (PTRO) mengalami tekanan jual yang signifikan.
Adanya rencana pemerintah untuk membatasi minimarket di wilayah pedesaan demi memberi ruang bagi operasional Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih juga menjadi sorotan dan memengaruhi sentimen pasar domestik. Sementara itu, nilai tukar rupiah terpantau menguat tipis 0,18% ke level Rp 16.750 per dolar AS pada penutupan Kamis (26/2/2026).
Proyeksi Analis
Analis memperkirakan IHSG masih akan menghadapi tekanan koreksi pada perdagangan hari ini. Namun, peluang untuk terjadinya technical rebound tetap terbuka, terutama jika tekanan eksternal mereda. Level resistance mingguan IHSG saat ini berada di 8.596 dan 8.980, sementara level support berada di 7.861 dan 7.712. Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan sentimen global dan data ekonomi domestik guna mengambil keputusan investasi yang tepat.