Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026. Sentimen negatif dari kancah global dan domestik diperkirakan masih akan membayangi pergerakan pasar saham Indonesia.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, IHSG tercatat melorot 1,04% atau 86,97 poin ke level 8.235,26. Penurunan ini menambah akumulasi pelemahan 0,47% dalam sepekan terakhir, dan sejak awal tahun, IHSG telah terkoreksi 4,76%. Bahkan, pada sesi I perdagangan Kamis, IHSG sempat melemah 0,81% di posisi 8.255, dengan saham-saham seperti NCKL, MDKA, dan EXCL menjadi pemberat.
Pemicu Pelemahan dari Berbagai Arah
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa penurunan indeks pada Kamis dipengaruhi oleh sentimen negatif terkait rencana Amerika Serikat (AS) untuk menerapkan tarif bea masuk tinggi pada produk sel dan panel surya yang diimpor dari India, Indonesia, dan Laos. AS menetapkan tarif sebesar 104,38% untuk impor dari Indonesia, dengan tarif individu bagi PT Blue Sky Solar sebesar 143,3% dan PT REC Solar Energy sebesar 85,99%. Kekhawatiran akan tarif ini memicu koreksi IHSG.
Selain itu, Perwakilan Perdagangan AS (USTR) juga berencana membuka penyelidikan Pasal 301 terhadap praktik perdagangan Indonesia, khususnya terkait kapasitas industri dan subsidi perikanan. Hasil penyelidikan ini akan dibandingkan dengan komitmen Indonesia terhadap kekhawatiran AS, menambah ketidakpastian di pasar.
Faktor eksternal lain yang turut menekan IHSG adalah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkat. Kekhawatiran pasar muncul setelah AS dikabarkan akan melancarkan serangan terhadap Iran, sementara Iran dilaporkan berencana menggelar latihan angkatan laut bersama Rusia. Ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan volatilitas pasar keuangan global.
Dampak Kebijakan Moneter dan Defisit Fiskal
Dari sisi domestik, kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) masih menjadi perhatian investor. Risalah rapat terbaru The Fed mengungkap adanya perbedaan pandangan di antara pejabat terkait arah kebijakan suku bunga berikutnya, yang mendorong sebagian investor untuk melakukan aksi ambil untung. Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) tetap konsisten menahan suku bunga acuan di level 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi.
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia juga menjadi sorotan. Kementerian Keuangan melaporkan realisasi defisit APBN hingga Desember 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini jauh lebih tinggi dibanding realisasi 2024 dan merupakan defisit APBN terdalam sejak 2005 di luar pandemi Covid-19. Defisit fiskal yang mendekati batas atas 3% terhadap PDB ini menimbulkan kegelisahan investor terhadap ruang pembiayaan pemerintah.
Proyeksi dan Rekomendasi
Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG pada Jumat (27/2/2026) akan bergerak pada rentang resistance 8.250, pivot 8.200, dan support 8.150. Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang support 8.200 dan resistance 8.400 untuk periode 23-27 Februari 2026.
Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas, mengatakan bahwa dalam kondisi ketidakpastian seperti ini, investor cenderung bersikap “wait and see” dan mengalihkan dana ke aset berisiko rendah seperti emas. Hal ini turut mendorong harga emas dunia menguat hingga mencetak rekor tertinggi baru.
Secara historis, IHSG sempat mencapai titik tertinggi sepanjang masa sebesar 9.174,47 pada Januari 2026, namun kemudian mengalami koreksi tajam. Penurunan IHSG juga pernah disebabkan oleh informasi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan rebalancing saham Indonesia pada Februari 2026, disertai peringatan keras terkait transparansi struktur kepemilikan saham.