Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, dengan pelemahan tipis 0,03% atau turun 2,31 poin, berada pada level 8.271,77. Pergerakan indeks hari ini diwarnai volatilitas tinggi, setelah sempat dibuka menguat pada pagi hari.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar, mencapai titik tertinggi 8.328,42 dan terendah 8.236,75. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai perdagangan mencapai Rp20,39 triliun, dengan total 45,82 miliar saham berpindah tangan dalam 2,9 juta kali transaksi. Sebanyak 381 saham mengalami pelemahan, sementara 267 saham menguat, dan 171 saham stagnan.
Saham MBMA Anjlok, Sektor Konsumen Primer Tertekan
Salah satu saham yang menjadi pemberat utama IHSG adalah PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). Saham emiten nikel ini anjlok 5,52% dan masuk dalam daftar top losers indeks LQ45. Penutupan perdagangan hari ini menempatkan saham MBMA pada level Rp905 per lembar, setelah dibuka di Rp830 dengan rentang pergerakan harian antara Rp800 hingga Rp945.
Pelemahan MBMA terjadi setelah sehari sebelumnya, pada Kamis (19/2/2026), saham ini sempat melonjak lebih dari 15% dan mendekati rekor tertinggi sejak IPO di level Rp955. Meski demikian, secara year-to-date (YtD), saham MBMA masih mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 45,97% hingga 20 Februari 2026, bahkan menguat lebih dari 100% dalam enam bulan terakhir. Sentimen positif dari sektor nikel dan prospek bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) menjadi pendorong utama kinerja MBMA, yang juga didukung oleh aksi beli bersih investor asing sebesar 223,26 juta lembar saham.
Secara sektoral, tujuh sektor saham ditutup terkoreksi. Sektor barang konsumen primer mencatat penurunan terdalam hingga 1,53%. Diikuti oleh sektor transportasi yang merosot 1,06% dan sektor energi yang terpangkas 1,02%. Sektor kesehatan juga melemah 0,32% dan properti turun 0,74%. Sementara itu, empat sektor saham berhasil parkir di zona hijau, dipimpin oleh sektor infrastruktur yang menguat 0,92%, disusul sektor keuangan 0,54%, industri 0,50%, dan barang konsumen non-primer 0,22%.
Sentimen Global dan Reformasi Pasar Modal
Pergerakan IHSG sepanjang Februari 2026 memang cenderung fluktuatif, dipengaruhi oleh sentimen global seperti ekspektasi suku bunga The Fed, risiko geopolitik, dan arus modal internasional, serta faktor domestik seperti kebijakan Bank Indonesia (BI) dan tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar. Pada Kamis (19/2/2026), BI memutuskan untuk menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75%, sebuah langkah yang konsisten dengan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Meskipun demikian, optimisme terhadap pasar modal Indonesia masih terjaga. Mirae Asset Sekuritas Indonesia, misalnya, mempertahankan proyeksi ambisius bahwa IHSG berpotensi menembus level 10.500 pada akhir tahun 2026. Keyakinan ini didasarkan pada fundamental ekonomi Indonesia yang kokoh, potensi peningkatan konsumsi domestik, serta percepatan program strategis pemerintah seperti hilirisasi industri.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) tengah gencar melakukan reformasi tata kelola pasar modal pasca-kasus pembekuan indeks oleh MSCI pada akhir Januari lalu. Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Mari Elka Pangestu, menekankan pentingnya implementasi nyata reformasi ini. “Yang ditunggu investor adalah implementasi nyata dari reformasi ini. Jika Indonesia mampu merespons kasus MSCI dengan tata kelola dan transparansi yang lebih kuat, potensi capital inflow bisa mencapai US$60–70 miliar,” ujar Mari dalam diskusi virtual OJK: Economic Outlook 2026 pada Kamis (19/2/2026).