IHSG Menguat Tipis di Tengah Bayang-bayang Geopolitik dan Pelemahan Rupiah

ihsg, pasar modal, geopolitik timur tengah, harga minyak dunia, rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan () Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu (11/3/2026) pagi dibuka menguat tipis, melanjutkan tren positif setelah sempat tertekan hebat di awal pekan. Pada pembukaan, IHSG naik 0,59 persen ke posisi 7.484,77. Sekitar pukul 09.10 WIB, indeks bahkan menguat 0,97 persen ke level 7.513,39.

Penguatan ini datang setelah periode pelemahan signifikan yang menghantui domestik sejak awal Maret 2026. Pada Jumat (6/3/2026), IHSG terkoreksi 1,62 persen ke level 7.585,687. Bahkan, pada Senin (9/3/2026), indeks sempat anjlok hingga 5,2 persen ke level 7.156 sebelum menutup perdagangan dengan koreksi 3,27 persen di level 7.337,37. Dalam sepekan terakhir sebelum Senin itu, IHSG bahkan terjun nyaris 8 persen.

Sentimen Global dan Domestik Picu Tekanan

Pelemahan IHSG yang terjadi secara beruntun ini, menurut analis pasar modal Hendra Wardana, bukanlah pergerakan yang tiba-tiba. “Tekanan yang kembali terjadi pada IHSG hingga turun ke kisaran 7.500 pada awal Maret 2026 tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan kombinasi dari tekanan global dan domestik yang datang secara bersamaan sehingga membuat sentimen pasar menjadi sangat sensitif,” ujar Hendra, Founder Republik Investor.

Faktor utama pemicu tekanan adalah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa (AB) BEI, Irvan Susandy, menyebutkan bahwa pelemahan ini erat kaitannya dengan meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah, di mana Iran sempat menutup pelayaran di Selat Hormuz, memicu kekhawatiran krisis energi dan lonjakan . Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menembus level 93 dolar AS per barel, dengan beberapa laporan menyebutkan di atas 100 dolar AS per barel.

Kenaikan harga minyak dunia ini memberikan tekanan tambahan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia, berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan stabilitas nilai tukar . Selain itu, beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga berpotensi membengkak, menimbulkan kekhawatiran defisit fiskal di kalangan investor. Ekonom Bloomberg, Tamara Henderson, memperingatkan bahwa kenaikan biaya energi sebesar 10 persen secara berkelanjutan dapat membuat inflasi akhir tahun berpotensi mencapai sekitar 4,8 persen, melampaui target Bank Indonesia.

Di sisi domestik, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS, bahkan sempat menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini juga dipicu oleh kebijakan moneter global yang masih ketat. Kondisi ini diperparah dengan aksi jual investor asing (capital outflow) yang cenderung menarik dananya dari pasar negara berkembang saat ketidakpastian global meningkat. Tercatat, investor asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp1,93 triliun pada 10 Maret dan total arus keluar dana asing sepanjang tahun 2026 mencapai Rp20,33 triliun.

OJK Pastikan Minat Investor Tetap Terjaga

Meskipun pasar bergejolak, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar saham domestik masih dalam kondisi relatif stabil dan tidak ada kepanikan berlebihan dari pelaku pasar. Anggota Dewan Komisioner OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa pergerakan pasar saham lebih mencerminkan proses penyesuaian harga terhadap berbagai perkembangan global.

OJK mencatat bahwa investor asing masih melakukan pembelian bersih di pasar saham domestik. Selama periode 1-6 Maret 2026, nilai pembelian bersih investor asing tercatat sekitar Rp2,23 triliun. Jika diakumulasikan hingga 10 Maret 2026, nilai pembelian bersih bisa mencapai Rp3,3 triliun. “Hal itu menunjukkan minat investor terhadap pasar modal Indonesia masih terjaga meskipun sentimen global cenderung menekan pasar keuangan,” kata Hasan. OJK juga terus mencermati perkembangan pasar secara ketat dan memiliki instrumen stabilisasi pasar, seperti izin buyback saham tanpa persetujuan RUPS, larangan short selling, dan mekanisme auto rejection.

Prospek dan Hal yang Perlu Dicermati

Pada perdagangan Selasa (10/3/2026), IHSG sempat menguat 1,41 persen ke level 7.440,91, didorong oleh koreksi harga minyak mentah global dan penguatan bursa saham Wall Street serta Asia. Penguatan pada Rabu pagi ini juga didukung oleh harapan meredanya konflik di Timur Tengah setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump. Harga minyak dunia juga terpantau turun, dengan minyak jenis WTI di 84,84 dolar AS per barel dan Brent di 88,99 dolar AS per barel.

Namun, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai beberapa faktor ke depan. Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menuturkan bahwa IHSG masih berpotensi terkoreksi, dengan area koreksi berikutnya di 7.140. Sementara itu, Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas mengungkapkan bahwa pasar keuangan Indonesia masih diperkirakan menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global yang masih tinggi, terutama terkait keamanan Selat Hormuz. Fokus investor juga akan tertuju pada rilis data inflasi AS pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 17-18 Maret 2026, yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga acuan The Fed.