Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang mengejutkan pada penutupan perdagangan Jumat, 27 Februari 2026. Setelah sempat tertekan sepanjang hari dan menyentuh level terendah 8.093,74, IHSG berhasil bangkit dan ditutup di zona hijau dengan penguatan tipis 0,22 poin atau 0,001% ke posisi 8.235,48.
Rebound dramatis ini tak lepas dari peran signifikan saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). Saham emiten energi terbarukan tersebut menjadi penopang utama yang mendorong IHSG kembali ke teritori positif. Pada penutupan perdagangan, saham BREN ditutup menguat 375 poin atau melonjak 4,77% ke level Rp8.225 per saham. Aktivitas perdagangan saham BREN juga cukup tinggi, dengan volume transaksi mencapai 35 juta saham senilai Rp290 miliar.
Peran BREN dan Sektor Pendukung
Masuknya BREN ke dalam Indeks LQ45 sejak 2 Februari 2026 hingga 30 April 2026 turut memperkuat posisinya sebagai salah satu saham dengan kapitalisasi pasar besar yang berpengaruh terhadap pergerakan indeks. Perusahaan ini dikenal dengan fokusnya pada strategi jangka panjang penyediaan energi bersih dan rendah emisi, terutama melalui operasional panas bumi.
Selain BREN, beberapa sektor lain juga turut menyumbang penguatan signifikan pada hari ini. Sektor perindustrian memimpin dengan kenaikan 4,47%, diikuti oleh sektor konsumen non-primer yang menguat 2,87%, dan sektor barang baku dengan kenaikan 1,87%. Saham-saham berkapitalisasi besar lainnya seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga memberikan kontribusi positif. AMMN melesat 4,7% ke Rp7.650 per saham, sementara BRPT mencatatkan penguatan 2,05%.
Dinamika Pasar dan Sentimen yang Membayangi
Total volume transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat ini mencapai 47,64 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp38,24 triliun. Sebanyak 341 saham berhasil menguat, 315 saham melemah, dan 163 saham lainnya stagnan.
Sebelumnya, pasar saham Indonesia sempat dibayangi sentimen negatif. Pada perdagangan Kamis (26/2/2026), IHSG ditutup melemah 1,04% ke level 8.235,26. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh kekhawatiran terkait rencana Amerika Serikat (AS) untuk menerapkan tarif bea masuk tinggi pada produk sel dan panel surya dari Indonesia. Selain itu, peringatan dari S&P Global Ratings mengenai peningkatan tekanan fiskal dan kenaikan biaya pembayaran utang Indonesia juga menambah sentimen negatif di pasar.
Analis FAC Sekuritas bahkan memprediksi IHSG cenderung tertekan pada perdagangan Jumat (27/2/2026) karena minimnya katalis positif dari domestik. Namun, di sisi lain, Tim Analis Bareksa justru memproyeksikan IHSG berpotensi ditutup lebih tinggi pada hari yang sama. Optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2026 juga menjadi salah satu faktor pendorong kinerja pasar saham secara keseluruhan.