IHSG Terjun 0,88 Persen di Sesi I, Sentimen Global dan Sektor Industri Jadi Beban

ihsg, bursa efek indonesia, sektor industri, pasar modal, sentimen global

Indeks Harga Saham Gabungan () (BEI) menutup sesi perdagangan pertama Jumat, 27 Maret 2026, di zona merah. Indeks acuan tersebut terkoreksi 0,88 persen atau terpangkas 63,08 poin, berakhir di level 7.101,00. Pelemahan ini utamanya disebabkan oleh yang memburuk serta tekanan jual pada saham-saham di dan infrastruktur.

Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG sudah menunjukkan tren negatif, dibuka melemah 0,22 persen ke posisi 7.148,16. Beberapa saat kemudian, indeks sempat merosot lebih dalam hingga 0,70 persen ke level 7.114 pada pukul 09.23 WIB. Sepanjang sesi pertama, pergerakan IHSG berada dalam rentang 7.106,89 hingga 7.154,55.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyoroti bahwa IHSG masih dibayangi oleh sentimen global, terutama dari pergerakan harga minyak dan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat. Dinamika tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi global dan arah kebijakan moneter ke depan. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menambahkan bahwa pelemahan ini juga dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) di tengah situasi geopolitik yang belum kondusif, khususnya terkait negosiasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menemukan titik terang.

Tekanan jual terlihat mendominasi seluruh sektor saham. Sektor industri dan infrastruktur menjadi penyumbang pelemahan terbesar, masing-masing turun 0,99 persen. Selain itu, sektor energi melemah 0,31 persen, sektor basic turun 0,53 persen, dan sektor consumer nonsiklikal terpangkas 0,14 persen. Indeks saham unggulan LQ45 juga tergelincir 1,10 persen ke posisi 724,47.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama cukup ramai. Tercatat sebanyak 9,95 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp 5,70 triliun, serta frekuensi sebanyak 781,6 ribu kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 341 saham melemah, 180 saham menguat, dan 185 saham stagnan.

Secara teknikal, Hendra Wardana menilai IHSG kini mendekati area support kuat di kisaran 7.100 hingga 7.120, yang membuka peluang untuk rebound dengan resistance di area 7.250–7.300. Namun, ia memperingatkan bahwa jika tensi geopolitik kembali memanas dan harga minyak terus meningkat, IHSG berpotensi kembali menguji level psikologis di kisaran 7.000. Senada, Head of Retail Research PT BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG berpotensi bergerak sideways cenderung melemah, dengan level support di 7.075-7.130 dan resistance di 7.200-7.250.

Di pasar valuta asing, posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 16.929.