IHSG Terkoreksi 1,04% Akibat Sentimen Tarif AS, Analis Beri Rekomendasi Saham Pilihan

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

ihsg, rekomendasi saham, pasar modal, mandiri sekuritas, bri sekuritas

Indeks Harga Saham Gabungan () mengakhiri perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, dengan koreksi signifikan sebesar 1,04%, ditutup pada level 8.235,26. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen negatif global, termasuk kekhawatiran terkait rencana Amerika Serikat (AS) memberlakukan tarif bea masuk tinggi, serta aksi ambil untung (profit taking) investor setelah penguatan sebelumnya. Untuk perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, sejumlah analis memberikan proyeksi pergerakan IHSG yang bervariasi, mulai dari potensi penguatan terbatas hingga kelanjutan pelemahan, disertai dengan -saham pilihan yang menarik untuk dicermati.

Pergerakan IHSG Kamis: Seluruh Sektor Memerah

Pada perdagangan Kamis (26/2/2026), IHSG dibuka pada level 8.351,36, namun tekanan jual yang dominan membuat indeks terus tertekan sepanjang hari. Bahkan, IHSG sempat menyentuh level terendah 8.139,82 sebelum ditutup di 8.235,26. Seluruh 11 sektor saham yang tercatat di Indeks Sektoral IDX-IC berakhir di zona merah.

Sektor transportasi mencatat penurunan terdalam hingga 4,54%, diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang terkoreksi 2,59%, dan sektor infrastruktur yang jatuh 2,41%. Sektor-sektor lain seperti energi, properti, kesehatan, bahan baku, teknologi, industrial, dan keuangan juga tidak luput dari tekanan jual. Data RTI Business menunjukkan, sebanyak 568 saham melemah, sementara hanya 146 saham yang menguat, dan 105 saham lainnya stagnan. Total frekuensi perdagangan mencapai 3,14 juta kali transaksi dengan volume 56,53 miliar lembar saham dan nilai transaksi mencapai Rp28,14 triliun.

Di tengah koreksi indeks, investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sekitar Rp409 miliar, yang turut menjadi salah satu faktor penekan IHSG. Saham-saham seperti PT Indospring Tbk (INDS), PT Sekar Bumi Tbk (SKBM), dan PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) menjadi top losers dengan penurunan masing-masing 14,95%, 14,88%, dan 14,82%. Sementara itu, PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA), dan PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) berhasil menjadi top gainers.

Sentimen Global dan Domestik Jadi Pemicu

Pelemahan IHSG pada Kamis dipengaruhi oleh beberapa sentimen, baik dari eksternal maupun internal. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebutkan bahwa kekhawatiran akibat rencana AS menerapkan tarif bea masuk tinggi untuk produk sel dan panel surya dari India, Indonesia, dan Laos memicu koreksi IHSG. Selain itu, aksi ambil untung jangka pendek setelah reli sebelumnya dan sentimen global yang cenderung beragam juga menjadi faktor penekan.

Dari sisi domestik, kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi penting seperti inflasi Februari dan neraca perdagangan Januari turut mempengaruhi pergerakan indeks. Implementasi aturan minimum free float 15% juga memunculkan kekhawatiran akan potensi notasi khusus hingga risiko delisting bagi emiten yang belum memenuhi ketentuan, sehingga mendorong sebagian investor melakukan aksi jual. Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, yang berpotensi menyeret Rusia serta China, juga mendorong sentimen risk-off di pasar negara berkembang.

Di pasar global, mayoritas bursa kawasan Asia sore Kamis melemah, meskipun Indeks Nikkei Jepang berhasil menguat tipis. Sementara itu, Wall Street pada Rabu (25/2) ditutup menguat solid, dipimpin oleh sektor teknologi setelah Nvidia melaporkan kinerja kuartal keempat yang melampaui ekspektasi. Namun, saham-saham di Amerika Serikat dilaporkan turun semalam (Kamis) seiring anjloknya saham Nvidia meskipun perusahaan tersebut mencatat kinerja laba kuartalan yang melampaui ekspektasi, yang kemudian berdampak pada pasar Asia.

Proyeksi IHSG dan Rekomendasi Saham Hari Ini

Untuk perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, analis memproyeksikan pergerakan IHSG yang bervariasi. Beberapa pihak memprediksi IHSG berpeluang menguat, sementara yang lain melihat potensi pelemahan terbatas. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, memperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas menuju 8.150 dengan resistance di 8.350. Sementara itu, Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan support IHSG berada di 8.250-8.270 dan resistance di 8.380-8.450.

Pengamat sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai IHSG saat ini masih dalam fase konsolidasi setelah gagal bertahan di atas area psikologis 8.300. Ia memperkirakan IHSG berpeluang mengalami technical rebound menuju area 8.280-8.300 apabila tekanan eksternal mereda dan nilai tukar rupiah tetap stabil.

Berikut adalah beberapa rekomendasi saham pilihan dari berbagai sekuritas untuk perdagangan Jumat, 27 Februari 2026:

  • :
    • TLKM: Rekomendasi Beli, harga penutupan 3.650, target harga 3.750, stop loss/reversal 3.620.
    • UNVR: Rekomendasi Beli, harga penutupan 2.310, target harga 2.390, stop loss/reversal 2.280.
    • ISAT: Rekomendasi Beli, harga penutupan 2.320, target harga 2.390, stop loss/reversal 2.290.
  • Republik Investor (Hendra Wardana) untuk selective buying jangka pendek:
    • ENRG: Menarik dengan target Rp 1.770.
    • AVIA: Trading buy dengan target Rp 468.
    • KPIG: Speculative buy dengan target Rp 150.
  • BRI Sekuritas (Reza Diofanda):
    • TINS: Rekomendasi Beli, dalam tren bullish dan sedang pullback. Support di 4190-4350, target resistance terdekat 4580-4690.
    • HRTA: Rekomendasi Beli, berhasil menguat signifikan dan menembus resistance sebelumnya di 2620-2770.

Selain itu, beberapa saham juga berpotensi masuk dalam evaluasi MSCI Februari 2026, di antaranya PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Secara jangka menengah hingga panjang, prospek pasar saham Indonesia masih dinilai positif, meskipun volatilitas tinggi masih membayangi. Chief Marketing Officer Jarvis Asset Management, Kartika Sutandi, memproyeksikan tren bullish pada pasar modal Indonesia tahun ini, namun menyarankan investor untuk menunggu setelah evaluasi MSCI pada bulan Mei.