Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, di zona merah, terkoreksi sebesar 1,04 persen ke level 8.235,26. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen negatif dari rencana kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS) terhadap produk sel dan panel surya dari beberapa negara, termasuk Indonesia. Menariknya, di tengah tekanan pasar domestik, investor asing justru terpantau aktif melakukan pembelian bersih (net buy) saham senilai ratusan miliar rupiah.
Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG bergerak di rentang 8.139,82 hingga 8.358,96, setelah dibuka di level 8.351,36. Total nilai transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 28,14 triliun, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 3,14 juta kali. Sebanyak 568 saham ditutup melemah, sementara 146 saham menguat, dan 105 saham lainnya stagnan.
Sentimen Tarif AS dan Aksi Ambil Untung Picu Pelemahan
Pelemahan IHSG pada Kamis kemarin sebagian besar dipicu oleh sentimen eksternal. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menjelaskan bahwa kekhawatiran akibat rencana AS menerapkan tarif bea masuk tinggi untuk produk sel dan panel surya yang diimpor dari India, Indonesia, dan Laos, memicu koreksi indeks. AS dikabarkan akan mengenakan tarif sebesar 104,38 persen untuk produk dari Indonesia.
Selain itu, aksi ambil untung (profit taking) investor setelah reli dalam beberapa hari terakhir juga turut memberikan tekanan. Pada awal pekan, IHSG sempat menguat 1,5 persen dan Rabu (25/2/2026) naik 0,5 persen. Pelemahan juga merata di saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), terutama di sektor perbankan dan komoditas.
Investor Asing Tetap Agresif Akumulasi Saham
Meskipun IHSG melemah, investor asing justru membukukan pembelian bersih sebesar Rp 341,3 miliar di seluruh pasar pada Kamis (26/2/2026). Total beli asing tercatat Rp 8,46 triliun dan total jual Rp 8,12 triliun. Aliran dana asing ini terlihat dominan mengarah ke saham berbasis komoditas, hilirisasi mineral, dan perbankan berkapitalisasi besar.
Beberapa saham yang menjadi incaran utama investor asing pada Kamis (26/2/2026) antara lain PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan net buy Rp 171 miliar, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar Rp 128,39 miliar, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) Rp 117,6 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) senilai Rp 108,8 miliar.
Khusus untuk saham BBRI, aksi borong investor asing telah berlangsung konsisten. Pada perdagangan Rabu (25/2/2026), investor asing mencatatkan net buy jumbo sebesar Rp 640,55 miliar, mendorong harga saham BBRI melonjak 2,58 persen ke level Rp 3.970. Akumulasi ini telah terjadi secara berkelanjutan sejak 18 Februari hingga 25 Februari 2026, dengan total net buy mencapai Rp 1,73 triliun.
Sektor Transportasi Paling Terpukul, Keuangan Paling Bertahan
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor saham ditutup terkoreksi pada Kamis kemarin. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang paling terpukul, ambles hingga 4,54 persen. Diikuti oleh sektor barang konsumen non-primer yang jatuh 2,59 persen dan sektor infrastruktur 2,41 persen. Sementara itu, sektor keuangan menjadi yang paling resilient dengan penurunan 0,52 persen.
Adapun saham-saham yang menjadi top gainers pada perdagangan Kamis (26/2/2026) adalah MSKY yang terbang 34,62 persen, diikuti JAYA yang naik 34,57 persen, dan DIVA yang melesat 27,61 persen. Di sisi lain, emiten top losers adalah INDS yang anjlok 14,95 persen, SKBM terkoreksi 14,88 persen, dan ARKO terjun 14,82 persen.
Analis pasar modal memproyeksikan bahwa pasar modal Indonesia masih berpotensi menguat hingga akhir tahun 2026, meskipun dibayangi volatilitas tinggi. Aliran dana dari institusi seperti dana pensiun, asuransi, dan BPJS diharapkan dapat meningkat, memberikan dorongan bagi saham-saham fundamental.