Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Setelah dibuka menguat signifikan di pagi hari, IHSG berbalik arah dan ditutup melemah pada penutupan sesi pertama perdagangan siang.
Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG sempat tancap gas, melonjak 29,13 poin atau 0,35 persen ke posisi 8.351,36. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Menjelang penutupan sesi I, IHSG terpantau melemah 0,81 persen atau turun 67,044 basis poin, parkir di level 8.255,185. Sepanjang sesi pagi hingga siang, IHSG bergerak dalam rentang 8.236 sebagai batas bawah dan 8.358 sebagai batas atas, setelah dibuka pada level 8.322. Bahkan, pada satu titik, IHSG sempat anjlok 1% ke level 8.236.
Pelemahan IHSG ini bersifat menyeluruh, tercermin dari 450 saham yang melemah, berbanding 202 saham yang menguat, dan sisanya stagnan pada sesi pertama perdagangan. Sejumlah sektor mengalami koreksi, di antaranya IDXENERGY turun 1,22%, IDXBASIC 1,77%, IDXCYCLIC 1,99%, IDXNONCYC 1,03%, IDXHEALTH 1,45%, IDXPROPERT 0,91%, IDXTECHNO 0,48%, IDXINFRA 1,68%, dan IDXTRANS 2,60%. Hanya sektor IDXFINANCE yang mampu mencatatkan penguatan tipis 0,34%.
Fanny Suherman, Head of Retail Research BNI Sekuritas, sebelumnya memprediksi IHSG akan mencoba melanjutkan kenaikan, namun memberikan peringatan. “IHSG pada perdagangan hari ini masih akan mencoba untuk melanjutkan kenaikan seiring penguatan indeks saham di Amerika Serikat (AS). Tapi hati-hati sepanjang belum break di atas 8.450, IHSG masih berpeluang kembali koreksi,” jelas Fanny. Ia juga menetapkan level support IHSG pada 8.250-8.270 dan resistance pada 8.380-8.450. Sebagai perbandingan, pada perdagangan Rabu (25/2/2026), IHSG ditutup menguat 0,5% dengan catatan net buy asing sebesar Rp1,18 triliun.
Rupiah Menguat di Tengah Pelemahan Dolar AS Global
Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah menunjukkan performa yang solid terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026. Rupiah dibuka menguat tajam dengan apresiasi 0,36% ke posisi Rp16.720 per dolar AS, berdasarkan data Refinitiv.
Penguatan rupiah terus berlanjut sepanjang sesi. Data dari Suara Surabaya mencatat rupiah bergerak naik 56 poin atau 0,33 persen ke Rp16.744 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Sementara itu, data Bloomberg menunjukkan rupiah melesat 44 poin (0,26%) ke level Rp16.756 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB, dan kemudian menguat 0,29% ke posisi Rp16.751 per dolar AS hingga pukul 13.11 WIB. Data Wise juga menunjukkan nilai tukar 16.753 per dolar AS pada hari ini.
Penguatan mata uang Garuda ini didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah 0,19% ke level 97,512, memperpanjang koreksi dolar setelah perdagangan sebelumnya. Ekonom Josua Pardede mengaitkan penguatan rupiah dengan penegasan kembali komitmen Presiden AS Donald Trump untuk mempertahankan kebijakan tarif. “Penguatan ini terkait erat dengan penegasan kembali komitmen Trump untuk mempertahankan kebijakan tarif, yang meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan perdagangan AS di masa depan dan meredam permintaan terhadap dolar AS,” ucapnya.
Meskipun demikian, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di rentang Rp16.800 hingga Rp16.830 per dolar AS. Hal ini dipengaruhi oleh sentimen pasar terkait pemberlakuan tarif impor global sementara sebesar 10 persen oleh AS, dengan rencana peningkatan menjadi 15 persen, serta ketegangan geopolitik antara AS dan Iran. Bank Indonesia sendiri menegaskan komitmennya untuk menjaga inflasi tetap dalam kisaran target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah melalui pengelolaan likuiditas yang pro-pasar.