Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, di zona merah, mencatatkan pelemahan sebesar 0,16% dan berakhir di posisi 8.261. Penurunan ini tak lepas dari sentimen negatif yang dipicu oleh defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mencapai US$ 7,8 miliar.
Defisit NPI ini menjadi sorotan tajam di kalangan pelaku pasar, mengingat kondisi ini menandakan kebutuhan devisa untuk membiayai aktivitas ekonomi dan transaksi keuangan domestik lebih besar dibandingkan pasokan devisa yang masuk ke Indonesia. Angka defisit US$ 7,8 miliar ini merupakan yang terburuk sejak tahun 2004, berbanding terbalik dengan surplus US$ 7,2 miliar yang tercatat pada tahun 2024.
Faktor Pemicu Defisit NPI dan Dampaknya
Penyebab utama defisit NPI pada tahun 2025, yang kemudian berlanjut menekan pasar di awal 2026, adalah defisit pada transaksi modal dan finansial yang mencapai US$ 4,2 miliar. Kondisi ini berbalik drastis dari surplus US$ 18 miliar pada tahun sebelumnya, didorong oleh derasnya arus keluar investasi portofolio. Selain itu, transaksi berjalan juga mencatat defisit sebesar US$ 2,5 miliar atau 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal IV 2025, setelah sebelumnya surplus di kuartal III 2025.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Meskipun neraca perdagangan nonmigas masih mencatatkan surplus, namun angkanya lebih rendah akibat perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas. Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas melebar seiring peningkatan aktivitas ekonomi domestik yang mendorong kebutuhan impor energi. Defisit neraca jasa juga membesar akibat penurunan kunjungan wisatawan mancanegara, serta defisit pendapatan primer yang meningkat karena pembayaran dividen.
Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyoroti bahwa defisit NPI yang lebar ini memperbesar risiko pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini terjadi karena permintaan valuta asing untuk impor, pembayaran pendapatan investasi, dan arus keluar modal cenderung lebih dominan dibandingkan pasokan dari ekspor, pariwisata, dan investasi. Senada, Ekonom UOB Kay Hian, Surya Wijaksana, menambahkan bahwa memburuknya neraca pembayaran berdampak langsung pada pelemahan rupiah dan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik.
Kinerja IHSG di Awal 2026 dan Proyeksi ke Depan
Pergerakan IHSG di awal tahun 2026 memang menunjukkan volatilitas. Meskipun sempat mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa (all time high/ATH) di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, indeks juga mengalami tekanan signifikan, termasuk anjlok 7,35% pada 28 Januari 2026, yang menjadi salah satu kejatuhan terdalam dalam dua dekade terakhir. Koreksi ini sebagian dipicu oleh penangguhan penilaian sejumlah indeks yang melibatkan saham-saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Meski demikian, secara jangka panjang, tren IHSG masih menunjukkan kenaikan, bergerak di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari yang berfungsi sebagai support dinamis. Proyeksi IHSG untuk tahun 2026 masih optimistis, dengan rentang antara 7.500 hingga 10.000. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menyatakan bahwa level 10.000 bukan tidak mungkin tercapai jika ditopang oleh fundamental ekonomi nasional yang solid dan peran investor domestik yang semakin kuat.
Jumlah investor pasar modal Indonesia terus bertumbuh, mencapai lebih dari 21 juta Single Investor Identification (SID) per akhir Januari 2026. Investor ritel mendominasi lebih dari 50% transaksi, sementara investor asing menyumbang sekitar 35%.
Langkah Pemerintah dan Outlook Ekonomi
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rijadh Djatu Winardi, menekankan bahwa defisit yang berulang merupakan sinyal untuk memperkuat kepercayaan investor dan memastikan stabilitas ekonomi domestik. Ia juga menyebutkan faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak global dan arus keluar modal di pasar obligasi sebagai pemicu defisit. Untuk mengatasi tekanan ini, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter sangat diperlukan guna menjaga stabilitas nilai tukar, mengelola volatilitas pasar, dan mempertahankan persepsi risiko yang sehat bagi pasar keuangan domestik.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan I 2026 akan tetap tinggi, didukung oleh konsumsi rumah tangga dan investasi pemerintah. Secara keseluruhan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada dalam rentang 4,9%-5,7%. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6% pada tahun 2026, dengan mengandalkan mesin pertumbuhan dari sektor swasta dan stimulus pemerintah. Cadangan devisa Indonesia juga tetap terjaga tinggi, di kisaran US$ 156,5 miliar, yang setara dengan sekitar 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, memberikan bantalan eksternal yang solid bagi perekonomian.