IHSG Tertekan Sentimen Global dan Domestik, Anjlok 1,5% di Akhir Pekan

Author Image

Bejo

27 Februari 2026

ihsg, bursa efek indonesia, sentimen pasar, tarif as, free float

Indeks Harga Saham Gabungan () mengakhiri pekan perdagangan dengan koreksi signifikan, anjlok hingga 1,5% pada Jumat, 27 Februari 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah kombinasi sentimen negatif dari eksternal dan domestik yang memicu aksi jual investor.

Pada pembukaan perdagangan pagi, IHSG langsung menunjukkan tren pelemahan. Pukul 09.08 WIB, indeks tercatat kehilangan 104,83 poin atau setara dengan melemah 1,27% ke level 8.130. Tak berselang lama, pada pukul 09.11 WIB, tekanan semakin dalam, membuat IHSG anjlok 1,5% ke level 8.114. Data perdagangan menunjukkan, sebanyak 507 saham mengalami penurunan, sementara hanya 124 saham yang menguat, dan 327 saham tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp2,98 triliun, melibatkan 7,9 miliar saham dalam 397.100 kali transaksi, dengan kapitalisasi pasar yang semakin menjauhi level Rp15.000 triliun.

Tekanan Berlanjut dari Hari Sebelumnya

Koreksi pada Jumat ini merupakan kelanjutan dari pelemahan yang terjadi pada Kamis (26/2/2026). Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup di zona merah dengan penurunan 1,04% ke level 8.235,26. Bahkan, pada sesi kedua perdagangan Kamis, indeks sempat ambruk 2%. Tekanan jual merata di sejumlah saham berkapitalisasi besar, dengan 642 saham anjlok, 196 saham tidak berubah, dan hanya 124 saham yang mengalami kenaikan.

Sentimen Eksternal dan Domestik Jadi Pemicu

Beberapa faktor utama disinyalir menjadi pemicu pelemahan IHSG. Dari sisi eksternal, kebijakan Amerika Serikat yang mengenakan tarif tinggi sebesar 104,38% pada panel surya impor dari Indonesia memicu kekhawatiran akan tekanan ekspor dan meningkatnya proteksionisme global. Selain itu, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang berpotensi menyeret Rusia dan China turut mendorong aksi risk-off di pasar negara berkembang.

Di ranah domestik, implementasi aturan minimum 15% memunculkan kekhawatiran akan potensi notasi khusus hingga risiko delisting bagi emiten yang belum memenuhi ketentuan, sehingga mendorong sebagian investor melakukan aksi jual. Aksi ambil untung (profit taking) setelah reli dalam beberapa hari terakhir juga menjadi kontributor utama koreksi. Tekanan juga datang dari peringatan S&P Global Ratings mengenai peningkatan tekanan fiskal Indonesia, terutama kenaikan biaya pembayaran utang yang dapat memperbesar risiko penurunan profil kredit. Sebelumnya, Moody’s Investors Service juga telah menurunkan outlook peringkat utang pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif pada 5 Februari 2026.

Meskipun demikian, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan tipis 0,18% ke Rp16.755 per dolar AS pada Kamis (26/2), menandakan stabilitas makroekonomi domestik masih cukup terjaga.

Proyeksi dan Rekomendasi Analis

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, dalam risetnya menyatakan, “Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas menuju 8.150 dengan resistance di 8.350. Pasar menanti perkembangan negosiasi AS–Iran yang akan mempengaruhi arus risk asset dan pergerakan komoditas.” Senada, Mandiri Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi melanjutkan pergerakan mixed cenderung turun, dengan arah dominan kembali menguji support tengah 8.200–8.230, sebelum pasar memutuskan apakah akan menguji ulang support utama di 8.100 atau mencoba rebound pendek.

Secara teknikal, pelemahan IHSG juga membentuk pola Bearish Rising Wedge, yang mengindikasikan penguatan mulai kehilangan tenaga dan rawan berbalik arah, berpotensi menguji area support di kisaran 7.900 hingga 7.800. Pengamat pasar modal Hendra Wardana dari Republik Investor menyarankan strategi selective buying pada saham yang memiliki katalis spesifik dan tidak agresif mengejar harga. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dicermati antara lain TINS, HRTA, dan INDF dari BRI Danareksa Sekuritas, serta BBRI, AADI, dan ADRO dari Bareksa.